Home / News / Bisnis / Tarif Tol Trans Jawa dikeluhkan mahal, Ruhut: Kalau murah tak ada yang investasi

Tarif Tol Trans Jawa dikeluhkan mahal, Ruhut: Kalau murah tak ada yang investasi

Salah satu gerbang tol Trans Jawa. Tarif tinggi membuat truk ogah menggunakan tol tersebut. (Kredit: Detik.com)

Jakarta (RiauNews.com) – Tarif Jalan Tol Trans Jawa yang mahal menuai keberatan dari kalangan pengusaha hingga sopir angkutan barang maupun penumpang.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pun mengingatkan bahwa operator akan menderita kerugian apabila tingkat okupansi jalan tol rendah.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan angkat bicara terkait keluhan sejumlah kalangan yang menyebut tarif Jalan Tol Trans Jawa terlampau mahal.

“Menurut saya tak mungkin mereka bikin terus mahal. Karena kalau dibikin terlalu murah juga tak ada orang mau investasi nanti. Nanti akan kita cek,” kata Luhut, Senin (4/2/2019).

Para operator jalan tol, sambung Luhut, pun dilanda dilematis apabila menentukan tarif yang lebih murah. Apalagi, jika investasi yang digelontorkan menghabiskan triliunan rupiah.

“Ya kan dia return-nya harus ada,” sambung mantan Kepala Staf Kepresidenan itu.

Hasil penelusuran Tim Riset CNBC Indonesia mencatat, bahwa total investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek jalan tol memang tidak main-main.

Untuk menyambungkan ruas tol dari Pejagan hingga Pasuruan yang sepanjang 626,75 kilometer, total biaya investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 67,94 triliun.

Sedangkan biaya pembebasan lahan proyek tersebut menyentuh angka Rp 5,9 triliun. Artinya, rata-rata biaya investasi yang dibutuhkan untuk setiap 1 kilometer jalan yang dibangun mencapai Rp 108,4 miliar, di luar biaya pembebasan lahan.

Harus diakui, pasca diberlakukannya tarif baru mulai 21 Januari lalu, banyak pengusaha jasa transportasi mengeluhkan harganya yang dinilai mahal.

Namun, Luhut menjawab persoalan tersebut cukup diplomatis. Menurutnya, saat ini sudah ada berbagai alternatif jalan yang bisa digunakan para pengguna kendaraan, termasuk para pengusaha.

“Ada alternatif, bisa lewat tol bisa non tol, jadi kalau pun non tol pasti tidak akan macet. […] Ada kereta api, udara, ada kapal, yang dulu kan ndak begitu. Jadi orang punya pilihan pilihan mengurangi macet, pada akhirnya costnya juga turun,” jelasnya.

“Apakah ini nanti tol ini terlalu mahal ya tergantung, Darimana ngeliat. Pilihan. Moda itu sudah banyak. Dulu kan terbatas,” tegasnya.***

Sumber: CNBC Indonesia

Komentar
%d blogger menyukai ini: