22 Oktober 2018
Home / News / Bisnis / Periset didorong publikasikan penelitian sawit berkelanjutan di jurnal internasional

Periset didorong publikasikan penelitian sawit berkelanjutan di jurnal internasional

Pekerja mengangkut kelapa sawit yang baru saja dipanen. (Kredit: Berita Daerah)

Jakarta (RiauNews.com) – Ekspor produk kelapa sawit ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, mengalami hambatan dengan alasan bahwa pengelolaannya dianggap tidak ramah lingkungan.

Hal ini membuat Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendorong riset dan pakar independen tentang pengelolaan sawit berkelanjutan agar bisa mempublikasikannya pada jurnal internasional. Langkah ini guna meluruskan persepsi global bahwa produk sawit dan turunannya yang salah selama ini.



“Tugas kita mendorong agar pakar independen bisa memublikasikan di level internasional,” kata Ketua bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi, Ahad (29/4).

Dia mengatakan, selama ini penelitian independen soal sawit dari Indonesia untuk jurnal internasional masih jarang.

“Saya gak tahu kendalanya dimana, yang jelas ini perlu diperbanyak agar dunia internasional paham bahwa praktik pengelolaan sawit tidak memicu pemanasan global,” kata pria yang juga Vice President Communication PT Astra Agro Lestari Tbk ini.

Dikutip dari laman Berita Satu, Tofan juga mempertanyakan tudingan Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang menyatakan bahwa pengelolaan sawit tidak ramah lingkungan.

Pasalnya, praktik pengelolaan sawit Indonesia mengikuti kriteria seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang dirilis Kementerian Pertanian, dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diminta buyer Uni Eropa sesuai standar internasional.

“Ada tujuh kriteria yang diminta Eropa, dan kita sudah melakukan itu. Jika semua itu sudah kita penuhi, lalu Eropa tetap berencana membatasi pembelian produk sawit dan turunannya, maka ada sesuatu yang harus dipertanyakan kan,” kata dia.

Industri sawit Indonesia masih mengalami hambatan dagang dari beberapa negara. AS memberlakukan kebijakan antidumping atas produk biodiesel Indonesia. Sementara Resolusi Parlemen Uni Eropa menyebut pelarangan biodiesel berbasis sawit. Sebab, produk ini dinilai masih menimbulkan berbagai masalah, seperti deforestasi, korupsi, pekerja anak, hingga pelarangan HAM.

India pun menaikkan pajak impor minyak sawit dua kali lipat. Senat Australia juga kembali mengajukan RUU Competition and Consumer Amendment (Truth in Labeling-Palm Oil).***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: