Rab 19 Muharram 1441 H, 18 September 2019
Home / Nasional / Perjuangan Sutopo Purwo Nugroho lawan kanker

Perjuangan Sutopo Purwo Nugroho lawan kanker

Sutopo Purwo Nugroho.

Jakarta (RiauNews.com) – Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia Minggu dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat di Guangzhou, China. Sutopo meninggal setelah berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya.



Sutopo meninggal pada usia 49 tahun saat menjalani pengobatan di Guangzhou. Pria kelahiran Boyolali ini divonis kanker paru-paru pada pertengahan Januari 2018 lalu, meski sebenarnya penyakit itu sudah dideritanya sejak lama. Saat itu dokter yang menanganinya mengatakan bahwa sel kanker sudah menyebar ke tulang dan kelenjar getah bening.

Baca Juga:

Pria yang diganjar Asian Of The Year 2018 pun melakukan pengobatan medis hingga tradisional dengan mengonsumsi obat-obatan herbal untuk sembuh. Dan ketika divonis kanker paru-paru stadium akhir sebulan setelahnya, dia pun harus menjalani sederet pemeriksaan dan terapi agar kondisinya membaik.

Sutopo menjalani kemoterapi dan radioterapi guna membunuh sel kankernya. Saat itu, dia mengakui bahwa poses pengobatan yang dijalaninya menyakitkan. Efek dari pengobatan itu, dia mengalami mual dan muntah hingga berat badannya turun drastis.

Sempat di rawat di sejumlah rumah sakit, akhirnya Sutopo dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Di sana dia melanjutkan radiasi dan
kempoterapi.

Meski dalam kondisi sakit dan terbaring di ruang operasi rumah sakit, Sutopo masih tetap melaksanakan tanggung jawabnya, dengan mengawal kejadian bencana yang sempat menimpa beberapa daerah di Indonesia. Ia memberi informasi terbaru tentang bencana yang terjadi di Palu, Sulawesi pada 2018 lalu.

Kemudian demi mengobati sakitnya tersebut, Sutopo memilih melanjutkan pengobatan ke China. Dia ke China sekitar sebulan lalu dan hal itu disampaikan dalam akunnya di Instagram.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

“Hari ini saya ke Guangzhou untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh. Kondisinya sangat menyakitkan sekali,” tulis Sutopo pada 15 Juni 2019 lalu.

Namun belum sebulan di sana, kabar duka datang dini hari tadi mengabarkan kepergiannya.

Sutopo telah menjabat sebagai Kepala Data, Informasi, dan Humas BNPB sejak November 2010. Pria kelahiran Boyolali pada 7 November 1969 ini meninggalkan dua orang anak dan seorang istri.

Sutopo merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada jurusan geografi pada 1993. Ia menjadi lulusan terbaik di sana pada tahun itu.

Ia memperoleh gelar S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor. Sutopo memulai kariernya sebagai peneliti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi di BNPB pada 1994.

Awalnya, ia bekerja pada Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di bulan-bulan pertama ia bekerja, terjadi bencana-bencana terkenal yang menerjang Indonesia seperti banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai dan erupsi Gunung Merapi.

Ia pun ditunjuk menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di November pada tahun itu. Menurut Sutopo, ia menolak posisi tersebut tiga kali, sebelum menerima jabatan tersebut.

The Straits Times menobatkan Sutopo sebagai The First Responders 2018 karena sebagai “pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung” di Indonesia. Ia pernah memperoleh penghargaan Humas Terbaik Elshinta Award 2011, 2012, dan 2013.

Tak hanya itu, ia juga rajin menulis. Selain menulis artikel di media massa, Sutopo juga telah merilis sekitar 13 karya ilmiah telah dijadikan buku salah satunya Kelud Tanpa Kemelut, Rekam Jejak Inisiatif dan Kiprah Warga Dalam Tanggap Darurat Erupsi Gunung Kelud pada tahun 2015.

Nama Sutopo menjadi pembicaraan di jagat maya lantaran di saat tengah terbaring di ruang operasi rumah sakit, ia tetap memberi informasi terbaru tentang bencana yang terjadi di Palu, Sulawesi pada 2018. Kondisinya yang sedang sakit tak menghalanginya untuk terus memberikan layanan informasi terbaru kepada publik. Dedikasi dalam bekerja di tengah sakitnya makin membuat namanya melambung, baik di dalam maupun di luar negeri.

Komentar
%d blogger menyukai ini: