Sab 22 Muharram 1441 H, 21 September 2019
Home / Internasional / FBI gagal antisipasi penembakan di sekolah meski peroleh informasi

FBI gagal antisipasi penembakan di sekolah meski peroleh informasi

Pelaku tunggal penembakan di sekolah Parkland, Florida, Nicolas Cruz. (Kredit: BBC)

Washington (RiauNews.com) – Tragedi penembakan di sebuah sekolah di Parkland, Florida, Amerika Serikat sejatinya bisa diantisipasi andai saja Biro Investigasi Federal (FBI) bisa “membaca” petunjuk yang diberikan oleh warga.

Kegagalan tersebut diakui sendiri oleh FBI pada Jumat (16/2/2018), dengan mengatakan pihaknya gagal mengantisipasi satu petunjuk bahwa Nicolas Cruz (19), tersangka utama pnembakan massal tersebut, memiliki senjata api dan berniat melakukan pembunuhan.



Informasi ini berasal dari seseorang yang dekat dengan pelaku, dimana pada 5 Januari 2018 menelepon saluran informasi FBI untuk melaporkan kekhawatirannya soal Cruz.

“Sang penelepon memberikan informasi soal Cruz memiliki senjata api, keinginan untuk membunuh orang, perilaku tak menentu, unggahan mengkhawatirkan di media sosial, serta potensi bahwa ia bisa melakukan penembakan di sekolah,” demikian pernyataan rekan Cruz ke FBI yang dikutip kantor berita Reuters.

Petunjuk tersebut tampaknya tidak berhubungan dengan informasi sebelumnya soal komentar yang dilaporkan di Youtube. Dalam kolom komentar di media sosial itu, seseorang bernama Nikolas Cruz menulis, “Saya akan menjadi penembak sekolah profesional.”

FBI mengakui menerima informasi tersebut tapi tidak berhasil menghubungkannya dengan Cruz.

Kegagalan itu membuat Gubernur Florida dari Partai Republik, Rick Scott, mendesak Direktur FBI Christopher Wray untuk mundur.

“Kegagalan FBI dalam mengambil tindakan terhadap si pembunuh ini adalah hal yang tidak dapat diterima,” kata Scott dalam pernyataan.

Ia menimpali, “Kami secara konsisten menganjurkan langkah jika melihat sesuatu yang ganjil, beri tahu pihak berwenang, dan seseorang dengan keberaniannya telah melakukan itu kepada FBI. Dan, FBI gagal untuk bertindak.”

Pembunuhan yang terjadi di Parkland, Miami, itu telah meningkatkan kekhawatiran soal kemungkinan bahwa sekolah gagal memberikan pengamanan. Peristiwa itu juga memunculkan kembali perdebatan di AS soal hak memiliki senjata api, yang dilindungi negara melalui Amandemen Kedua Undang-undang Dasar AS.

Akan tetapi sejumlah pemimpin, termasuk Presiden AS Donald Trump, justru mengaitkan kekerasan pada Rabu itu dengan penyakit mental, mengesankan bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memperingatkan para petugas jika melihat bahaya.

Penembakan pada Rabu merupakan serangan senjata api paling maut di lingkungan sekolah sejak 2012, yaitu ketika penembakan massal terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, hingga menewaskan 20 murid kelas satu serta enam guru.*** (Antara)

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: