Sab 22 Muharram 1441 H, 21 September 2019
Home / Internasional / Fakta “kepopuleran” Colt AR 15, senapan pilihan pembunuhan massal di AS

Fakta “kepopuleran” Colt AR 15, senapan pilihan pembunuhan massal di AS

Colt AR 15

Pekanbaru (RiauNews.com) – Senapan otomatis Colt AR 15 terus jadi kepala berita negatif, karena amat sering digunakan dalam aksi penembakan amok di AS. Terbaru adalah penembakan massal di Marjory Stoneman Douglas Highs School Parkland, Florida. Tersangka pelakunya Nikolas Cruz (19), mantan siswa sekolah setempat, menembak membabi buta dengan senapan AR 15, menewaskan 17 orang dan melukai puluhan lainnya.

Dikutip dari situs Deutsche Welle, Colt mulai memproduksi senapan semi otomatis AR 15 tahun 1960-an. Ini adalah versi sipil dari senapan standar militer M 16 yang sangat banyak digunakan di kawasan konflik seluruh dunia. Senapan AR 15 sejatinya dirancang untuk berburu. Data menunjukkan sedikitnya 9 juta senapan AR 15 terjual hingga 2014.



Kepopularan senapan Colt AR 15 dipicu oleh kemudahan mengubahnya dari senapan semi otomatis versi sipil menjadi senapan serbu sekaliber versi militer M16. Laman Asisosiasi Senapan Nasional AS-NRA memuji, dengan sedikit perubahan, senapan Colt AR 15 mampu dipasangi magasin peluru kapasitas tinggi, yang bisa memuntahkan 100 tembakan per menit.

Karena menyebar luas dan gampang direkayasa, tak heran senapan otomatis Colt AR 15 tercatat jadi senapan paling mematikan dalam kasus penembakan massal. Sebelum insiden di Parkland, senapan ini juga digunakan pelaku penembakan massa di Sandy Hook Elementary School, Adam Lanza yang menewaskan 27 orang, 20 diantaranya anak kelas 1 SD. Pembunuhan 12 orang di bioskop Aurora, Colorado yang dilancarkan James Holmes, Syed Farook yang membunuh 14 orang di San Bernandino, California, serta Steven Paddock yang membunuh 58 orang di Las Vegas, Nevada juga memakai AR 15 yang dimodifikasi.

Meski sudah merenggut korban jiwa cukup banyak, baik Presiden Ameriksa Serikat maupun Kongres menolak untuk memperketat hak kepemilikan senjata. Diduga salah satu penyebabnya adalah lobby kuat asosiasi senjata nasional (NRA) yang menolak undang-undang pembatasan senjata. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: