20 Februari 2019
Home / Hukum & Kriminal / Polisi bekuk penghina agama Islam dan ulama lewat medsos

Polisi bekuk penghina agama Islam dan ulama lewat medsos


Jakarta (RiauNews.com) – Seorang yang diduga sebagai pelaku penghinaan terhadap agama Islam, ulama, dan lembaga pemerintahan melalui media sosial bernama M Sodikin, dibekuk Kepolisian Resor Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Selasa (30/10/2018).

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, menjelaskan bahwa pelaku diketahui melakukan penghinaan melalui akun media sosial Instagram @rezahardiansyah7071 dan akun Facebook bernama Reza.



“Pelaku membuat dan menyebar konten-konten yang menghina ulama dan agama Islam, kepala negara dan lembaga pemerintahan dengan nada provokatif melalui akun Instagram @rezahardiansyah7071 dengan menggunakan identitas orang lain,” ujar Dedi Prasetyo, di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Kepada polisi, pelaku mengaku kesal dengan pacar temannya, sehingga memfitnah menggunakan konten ujaran kebencian melalui akun palsu nama pacar temannya tersebut.

“Motifnya, pelaku marah kepada teman satu kelasnya bernama Putri sehingga membuat akun palsu dengan identitas dari pacar Putri yaitu Iwan Prasetiawan supaya temannya ketakutan karena pacarnya ditangkap polisi,” ungkap Dedi.

Dalam akun tersebut terdapat beberapa gambar yang memperlihatkan seseorang menginjak Alquran. Dia juga memposting nomor telepon serta tulisan yang bernada hinaan terhadap Islam, serta menantang kepolisian dan ormas tertentu.

Gambar-gambar itu diakui pelaku diperoleh dari internet dan diunggah ulang. Sementara nomor telepon yang diposting diambil dari postingan sejumlah akun publik figur.

“Pelaku juga membuat akun palsu di media sosial Instagram dengan nama @humaspolresbanjar_, namun akunnya sudah dihapus pihak Instagram,” jelasnya.

Dalam penangkapan itu, polisi menyita barang bukti berupa satu buah laptop, satu buah modem, satu buah ponsel, dan satu buah akun @reza_hardiansyah_7071 (akun baru setelah akun sebelumnya @rezahardiansyah7071 dihapus pihak Instagram). Saat ini pelaku masih diperiksa intensif penyidik Polda Kalimantan Selatan.

Akibat perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan Pasal 51 ayat 1 jo Pasal 35 dan Pasal 45A ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).***

Sumber: Merdeka

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: