14 Desember 2018
Home / Hukum & Kriminal / Kematian dua bocah saat pembagian sembako jangan dikalahkan dugaan intimidasi pada pendukung Jokowi

Kematian dua bocah saat pembagian sembako jangan dikalahkan dugaan intimidasi pada pendukung Jokowi

Aksi bagi-bagi sembako gratis yang berujung kematian dua anak. (Kredit: Republika)

Jakarta (RiauNews.com) – Kasus meninggalnya dua anak dalam acara pembagian sembako gratis yang dilakukan Forum Untukmu Indonesia di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (28/4/2018) lalu, harus mendapat perhatian serius dari aparat kepolsian.

Sekjen Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI), Djudju Purwantoro mengingatkan, jangan sampai kasus yang sudah jelas-jelas memakan korban jiwa ini dikalahkan oleh dugaan adanya intimidasi terhadap pendukung Joko Widodo dalam car free day (CFD).



“Jangan sampai berita kematian diatas yang justru lebih penting. Kok sepertinya malah dikalahkan, lebih ngetren dengan sekadar berita adanya dugaan intimidasi tentang dukung mendukung calon prediden 2019 dalam car free day (CFD),” kata Djudju, Rabu (2/5/2018), yang dilansir Republika.

Djudju menyatakan prihatin dan penyesalan atas terjadinya peristiwa yang merenggut nyawa korban Adinda Rizki (12), dan Mahesha Junaedi (10).

Baca: Timbulkan korban jiwa, bagi-bagi sembako di Monas sarat pelanggaran

Djudju mengatakan, pihaknya berharap agar kepolisian tidak gegabah dalam membuat kesimpulan. Yakni dengan cepat dan mudah menyimpulkan, bahwa kematian anak-anak tersebut adalah akibat mengidap suatu penyakit yang tidak terkait dengan peristiwa bagi-bagi sembako di Monas.

Djudju melanjutkan, peristiwa hilangnya nyawa tersebut juga merupakan delik umum atau formal. Sehingga, Kepolisian harus segera bertindak cepat untuk memeriksa dan melakukan penyelidikan kepada siapapun yang terlibat dan penanggung jawabnya, tanpa intervensi dan diskriminasi.

Baca: Rachmawati kritik cara Jokowi dekati rakyat dengan bagi-bagi sembako

Oleh karenanya, Djudju menegaskan, panitia pelaksana patut dimintai pertanggung jawabannya. Karena, kata Djudju diduga telah melanggar Pasal 359 KUHP, yang menyatakan: “Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun”.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: