Sel 15 Rabiul awal 1441 H, 12 November 2019
Home / Hukum & Kriminal / Gara-gara cuitan Papua Dandhy Laksono ditangkap polisi

Gara-gara cuitan Papua Dandhy Laksono ditangkap polisi

Dandhy Dwi Laksono. (Foto: CNN Indonesia)

Jakarta (Riaunews.com) – Mantan jurnalis sekaligus pendiri rumah produksi Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono, ditangkap polisi dari Polda Metro Jaya pada Kamis (26/9/2019) malam.

Kabar ini dibenarkan oleh ini Direktur YLBHI, Asfinawati.

“Ya benar,” ujar Asfinawati saat dikonfirmasi.



Dandhy disebut dijemput empat orang petugas kepolisian sekitar pukul 23.00 WIB di kediamannya, kawasan Pondok Gede karena posting-an di akun Twitter miliknya terkait Papua.

Salah seorang tim kuasa hukum yang mendampingi Dandhy Laksono selama proses pemeriksaan, Feri Kusuma, menuturkan proses pemeriksaan berlangsung sekitar tiga jam.

“(Dandhy) sudah pulang. Pemeriksaan tadi selesai pukul 04.00 WIB, mulainya sekitar pukul 01.00 WIB,” ujar Feri saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (27/9/2019).

“(Pertanyaan) terkait Papua dan Wamena, yang melaporkan dari Polisi.”

Feri menyebutkan pemeriksaan berlangsung baik, namun ia menyesalkan proses penangkapan Dandhy yang dinilai terlalu malam.

“Yang saya sesalkan kenapa harus terlalu malam dan saya harap tidak ada pemeriksaan lagi,” ujarnya.

Berdasar surat penangkapan yang diterima CNNIndonesia.com, Dandhy ditangkap karena diduga melanggar Pasal 28 ayat (2), jo Pasal 45 A ayat (2) UU No.8 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No.1 tahun 1946 tentang hukum pidana.

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA),” mengutip bunyi Pasal 28 Ayat (2) UU ITE yang dikenakan kepada Dandhy.

CNNIndonesia.com sudah berupaya mengonfirmasi perihal penangkapan Dandhy kepada pihak Polda Metro Jaya namun belum mendapat respons hingga berita ini diturunkan.

Sebelumnya, pria kelahiran Lumajang ini dikenal vokal menyuarakan kritik kepada pemerintah.

Ia membuat beberapa dokumenter yang mengkritik kebijakan pemerintah seperti ‘Rayuan Pulau Palsu’ dan ‘Sexy Killers’.***

Komentar