Ming 21 Safar 1441 H, 20 Oktober 2019
Home / Hukum & Kriminal / Dalami kasus Romahurmuzy, 7 calon Rektor UIN diperiksa KPK

Dalami kasus Romahurmuzy, 7 calon Rektor UIN diperiksa KPK

Romahurmuziy.

Jakarta (RiauNews.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi terus mengembangkan perkara jual beli jabatan yang melibatkan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, Romahurmuziy alias Rommy. Kali ini, KPK bakal memeriksa sejumlah calon Rektor UIN sebagai saksi untuk melengkapi berkas tersangka Rommy.



“KPK mulai melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah calon Rektor UIN sebagai saksi hari ini. Keterangan mereka dibutuhkan dalam perkara dengan tersangka RMY,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Senin (17/6/2019).

Adapun calon rektor yang dipanggil KPK adalah:

Baca: KPK bawa Romahurmuziy kembali ke tahanan

1. Prof Ali Mudlofir (PNS Kemenag/calon Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

2. Prof Masdar Hilmy (PNS Kemenag/Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

3. Prof Akh Muzakki (PNS Kemenag/calon Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

4. Dr Syarif (PNS Kemenag/Rektor IAIN Pontianak)

5. Dr Wajidi Sayadi (PNS Kemenag/calon Rektor IAIN Pontianak)

6. Dr Hermansyah (PNS Kemenag/calon rektor IAIN Pontianak)

7. Prof Warul Walidin (PNS Kemenag/Rektor UIN Ar Raniry)

“Ketujuhnya diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap seleksi jabatan di lingkungan Kemenag tahun 2018-2019 dengan tersangka RMY,” kata Febri.

Terkait dengan perkara ini, KPK baru menjerat tiga orang tersangka. Mereka yakni Rommy, dan dua oknum yang diduga menyuapnya, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muafaq Wirahadi.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Rommy sebagai tersangka karena diduga menerima suap Rp 300 juta. Suap itu diduga berasal dari Eks Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanudin dan eks Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi.

KPK menduga Rommy, yang merupakan anggota Komisi XI DPR, menerima suap dari kedua orang itu untuk membantu proses seleksi jabatan yang diikuti keduanya. Saat ini, Haris dan Muafaq sudah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Komentar