18 November 2018
Home / Featured / Pengrajin Serang permak limbah mebel jadi kerajinan seni beromzet ratusan juta rupiah

Pengrajin Serang permak limbah mebel jadi kerajinan seni beromzet ratusan juta rupiah

Suherman (35), ketua Komunitas Cipta Handycraft Innovation Product (CHIP) menunjukkan beragam kerajinan seni hasil produksi komunitasnya. (Kredit: istimewa)

Serang (RiauNews.com) – Bagi sebagian orang, limbah mebel bisa jadi tak berarti. Namun, bagi Suherman (35) limbah tersebut berpotensi menjadi emas. Ia bersama Komunitas Cipta Handycraft Innovation Product (CHIP) yang dipimpinnya, berhasil mengolah limbah mebel milik PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, Serang Mill (IKS), salah satu pabrik APP Sinar Mas, menjadi usaha kerajinan seni dengan omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan.

Menurut Suherman, usaha kerajinan tersebut bermula di awal 2017 lalu. Saat itu, ia berkesempatan untuk mengikuti proses pengadaan dari IKS yang sedang mencari vendor tambahan untuk mengolah kayu sisa peti kemas menjadi mebel untuk kegiatan CSR. Namun, ukuran kayu peti kemas yang besar membuat ia kesulitan untuk membawanya ke workshop untuk diolah.

“Saya lalu menawarkan diri kepada IKS untuk mengolah kayu-kayu kecil sisa mebel yang lebih mudah untuk saya bawa ke workshop. Saya bawakan contoh kandang burung yang pernah saya buat dan ternyata itu disukai oleh tim IKS. Dari situ, tim IKS lalu menantang saya dan teman-teman di CHIP untuk membuat kerajinan seni lainnya yang ternyata bisa kami penuhi,” ungkap Suherman kepada Riaunews.com melalui pesan elektronik.

Sejak saat itu Suherman dan rekan-rekannya di Komunitas CHIP mendapat kepercayaan untuk mengolah kayu sisa mebel IKS menjadi berbagai macam kerajinan seni. Dengan dukungan IKS, Komunitas CHIP terus berkembang dan kini mempunyai 12 anggota yang mampu memproduksi hingga ribuan barang kerajinan di setiap bulannya. Barang-barang tersebut antara lain berupa gantungan kunci, miniatur kapal dan pesawat, miniatur ikon daerah, aneka lampu hias, bingkai foto, tempat tisu, piala, jam dinding hingga tempat sauna dan booth pameran. Adapun harga jual barang bervariasi mulai dari Rp5.000 (gantungan kunci) hingga Rp30.000.000 (tempat sauna).

Suherman mengatakan, mereka telah berhasil memasarkan barang kerajinan mereka ke Jakarta, Bogor, Bali, Bandung, Lampung dan beberapa daerah lainnya. Meskipun baru dimulai sejak awal 2017 lalu, barang kerajinan produksi komunitas CHIP telah mendapatkan banyak apresiasi baik dari kalangan pejabat daerah, industri maupun kementerian.

“Bahkan karya kami juga mendapatkan apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang secara khusus memesan 200 photo on wood sebagai cendera mata untuk delegasi acara The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activities (IGR-4) di Bali tanggal 31 Oktober – 1 November 2018,” katanya.

Suherman pun mengatakan terdapat perubahan signifikan terhadap omzet usahanya sebelum dan sesudah menerima manfaat dari IKS. “Perbedaannya cukup tinggi, jika dulu omzet maksimal komunitas hanya berkisar Rp15.000.000 sampai Rp20.000.000 per bulan, kini bisa mencapai Rp50.000.000 hingga Rp100.000.000,” ucapnya.

Keberhasilan usaha Komunitas CHIP juga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan anggotanya yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi seperti tukang kayu, fotografer, musisi, mahasiswa, hingga Ibu rumah tangga. Setiap anggota mampu mendapatkan penghasilan tambahan yang beragam tergantung dengan banyaknya kerajinan yang mereka hasilkan. Jika mereka rajin, penghasilan tersebut bisa sesuai dengan UMR Provinsi Banten.

Selanjutnya klik tombol di bawah!

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: