Sat 17 Rabi Al Thani 1441 H, 14 December 2019
Home / Bisnis / Strategi ‘bakar duit’ OVO membuatnya ditinggalkan Lippo, benarkah?

Strategi ‘bakar duit’ OVO membuatnya ditinggalkan Lippo, benarkah?

OVO dikabarkan ditinggal oleh Lippo Grup.

 

Jakarta (Riaunews.com) – Beberapa hari ini beredar kabar di publik yang menyatakan Lippo Group akan meninggalkan OVO lantaran tak kuat menyokong kebutuhan dana perusahaan. Pasalnya, OVO masih terus melakukan skema bisnis ‘bakar duit’, dengan membebaskan biaya admin transfer ke sesama hingga bank.



Selain itu, perusahaan juga gencar memberikan promo potongan harga alias diskon sampai 60 persen kepada pelanggan setiap akhir bulan. Bahkan, kabar yang beredar menyebut kebutuhan ‘bakar duit’ OVO mencapai US$50 juta per bulan atau setara Rp700 miliar (berdasarkan kurs rupiah Rp14 ribu per dolar AS).

Namun rumor tersebut dibantah oleh PT Visionet Internasional, perusahaan pemilik brand dan yang menjalankan OVO.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra membantah Lippo Group, pendiri sekaligus penyuntik investasi perusahaan, bakal hengkang dari bisnis OVO. Hubungan kedua pihak justru diklaim masih ‘mesra’.

Sebelumnya, beredar kabar di publik yang menyatakan Lippo Group akan meninggalkan OVO lantaran tak kuat menyokong kebutuhan dana perusahaan. Pasalnya, OVO masih terus melakukan skema bisnis ‘bakar duit’, dengan membebaskan biaya admin transfer ke sesama hingga bank.

“Rumor itu sama sekali tidak benar. Saya malah beberapa waktu lalu baru saja ketemu dan mengobrol panjang dengan Pak John Riady (CEO Lippo Group) soal pengembangan OVO ke depan,” ungkap Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/11/2019).

Karaniya mengatakan OVO kini memang sudah menjadi perusahaan independen dengan investor beragam. Artinya, bukan hanya Lippo yang giat menyuntikkan dana untuk kebutuhan bisnis perusahaan.

Namun, hal itu tidak membuat hubungan kedua pihak renggang, apalagi sampai membuat Lippo Group meninggalkan OVO. “Beliau (John Riady) banyak memberikan masukan dan selama ini sangat suportif terhadap berbagai upaya pengembangan bisnis OVO,” katanya.

Di sisi lain, Karaniya enggan berkomentar soal kabar yang menyebut kebutuhan ‘bakar duit’ OVO mencapai Rp700 miliar. “Soal besaran dana promosi dan operasional, kami tidak bisa disclose (ungkap),” tuturnya.

Ia hanya menekankan perusahaan memiliki peta strategi bisnis yang jelas untuk menuju keuntungan dan keberlanjutan. Selain itu, ia menilai wajar bila saat ini kebutuhan dana perusahaan cukup besar karena merupakan pemain baru yang masih beradaptasi dan perlu mengenalkan bisnisnya ke masyarakat.

“Kami baru berusia dua tahun dan sedang dalam tahap edukasi dan pengembangan pangsa pasar. Ini penting karena e-money masih berada di level infancy (bayi) di Indonesia. Kami akan terus berkembang dengan pesat dalam 1-2 tahun ke depan,” terangnya.

OVO saat ini sudah bekerja sama dengan sejumlah pemain industri 4.0, seperti e-commerce Tokopedia dan transportasi daring Grab.

Skema ‘bakar duit’ ini memang tengah menjadi tren di bisnis dompet digital, seperti yang dilakukan pemain lain. Misalnya, Gopay, DANA, LinkAja, dan lainnya.

Sebagai informasi, OVO merupakan perusahaan dompet digital yang memberikan layanan jasa keuangan kepada masyarakat. OVO dibentuk oleh PT Multipolar Tbk yang sebelumnya memenuhi kebutuhan EDC Lippo Bank.***

Komentar