Mindfulness di Tengah Bencana? Mengapa Tidak Semua Orang Bisa Berpaling dari Berita Buruk?

Lifestyle, Opini26 Dilihat

Oleh Dita Indah Sari

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan bagi masyarakat Indonesia. Pada Oktober 2026, warga Kalimantan Barat menggugat sejumlah pejabat dan lembaga pemerintah atas dugaan kelalaian menangani kebakaran berkepanjangan yang mengganggu kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga kegiatan sekolah. Bagi masyarakat terdampak, krisis bukan sekadar berita yang bisa dilewati dengan menggulir layar ponsel. Lantas, apakah semua orang benar-benar punya pilihan untuk menjauh dari berita buruk?

Seperti diberitakan ANTARA, konten Mindfulness in the Age of Bad News milik Maudy Ayunda menuai kritik setelah sejumlah warganet menilai pesannya kurang mempertimbangkan kondisi masyarakat yang terdampak krisis secara langsung. Dalam tanggapannya, Maudy mengakui, “Being able to step away from the news is itself a privilege.” Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang lebih luas kemampuan untuk menjauh dari berita buruk tidak dimiliki semua orang dengan cara yang sama.

Bagi mereka yang tidak berada di tengah bencana, kabar banjir atau kebakaran hutan mungkin hanya lewat di layar sebelum mereka kembali menikmati sarapan atau menjalani rutinitas. Namun, bagaimana dengan warga yang kehilangan rumah, terpaksa mengungsi, atau setiap hari menghirup udara bercampur asap? Bagi mereka, bencana tidak berhenti ketika siaran berita berakhir. Saat perhatian publik beralih ke isu lain, mereka masih harus menghadapi dampaknya. Perbedaan pengalaman inilah yang dapat membuat seseorang kesulitan memahami perasaan orang-orang yang mengalami bencana secara langsung. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep empathy gap, yaitu kesenjangan dalam memahami perasaan orang lain ketika pengalaman atau kondisi emosional mereka berbeda dari kondisi kita sendiri.

Konsep ini dibahas oleh Leaf Van Boven, George Loewenstein, David Dunning, dan Loran F. Nordgren dalam kajian Changing Places: A Dual Judgment Model of Empathy Gaps in Emotional Perspective Taking (2013). Perbedaan pengalaman dapat membuat seseorang sulit membayangkan penderitaan orang lain, termasuk warga yang harus menghadapi bencana secara langsung.

Menjaga kesehatan mental dengan membatasi berita bukanlah sesuatu yang salah. Tidak semua orang sanggup terus-menerus mengikuti kabar buruk, dan setiap orang berhak menjaga dirinya sendiri. Namun, persoalannya berbeda ketika pengalaman pribadi disampaikan seolah-olah semua orang memiliki pilihan yang sama. Bagi korban bencana, menjauh dari berita tidak otomatis membuat mereka menjauh dari bencana itu sendiri.

Figur publik memang tidak harus mengomentari setiap persoalan sosial. Namun, pesan mereka menjangkau orang-orang dengan kehidupan yang berbeda. Karena itu, kepekaan terhadap keadaan masyarakat tetap penting. Menjaga kesehatan mental seharusnya tidak membuat penderitaan orang lain kehilangan tempat dalam percakapan publik. Sebab, tidak semua orang bisa berpaling dari berita buruk. Bagi sebagian orang, berita itu bukan sesuatu yang mereka tonton, melainkan sesuatu yang sedang mereka alami.