Pekanbaru (Riaunews.com) – Pembalap Honda, Joan Mir, mengungkapkan bahwa rangkaian kecelakaan yang dialaminya di MotoGP musim 2026 disebabkan oleh upayanya menutupi kelemahan motor Honda. Ia menegaskan tidak memiliki penyesalan atas pendekatan agresif tersebut.
Mir menjadi pembalap tercepat Honda sejauh musim ini, namun baru mengoleksi satu hasil finis berbuah poin dari tiga seri awal. Pada seri pembuka di Thailand, ia kehilangan posisi keempat akibat masalah ban. Di Brasil, ia terjatuh dua kali saat balapan dalam kondisi sakit. Sementara itu, dua kegagalan finis (DNF) di Grand Prix Amerika Serikat terjadi akibat kesalahannya sendiri, membuatnya baru mengumpulkan tiga poin, tertinggal dari rekan setimnya, Luca Marini, yang telah meraih 23 poin.
Pada balapan di Circuit of the Americas, Mir tampil kompetitif setelah memulai dari posisi kelima. Ia sempat mengejar pembalap KTM, Pedro Acosta, dalam perebutan posisi podium pada sprint race. Namun, ia kehilangan kendali ban depan di lap terakhir dan gagal memanfaatkan peluang naik ke posisi ketiga setelah Acosta mendapat penalti tekanan ban.
Peluang meraih poin kembali hilang pada balapan utama hari Minggu. Setelah menjalani long lap penalty, Mir kembali terjatuh saat berada di posisi keenam, meskipun saat itu ia unggul jauh dari pembalap Honda lainnya.
Risiko Tinggi akibat Masalah Grip
Mir menjelaskan bahwa masalah grip belakang pada motor Honda memaksanya mengandalkan ban depan secara berlebihan saat memasuki tikungan. Hal ini meningkatkan risiko kehilangan kendali.
“Itu akhir pekan yang menjanjikan, tetapi kami tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Saya harus menyerang saat masuk tikungan untuk mendapatkan kecepatan keluar, namun ban depan justru kehilangan grip,” ujar Mir.
Ia juga mendesak Honda untuk meningkatkan performa motor RC213V, terutama di sektor belakang. Menurutnya, tanpa peningkatan tersebut, pembalap akan terus dipaksa mengambil risiko besar untuk tetap kompetitif.
“Kami harus meningkatkan performa bagian belakang agar lebih nyaman mengandalkan ban depan. Jika tidak ada peningkatan, akan sulit bersaing tanpa mengambil risiko seperti ini,” katanya.
Tetap Agresif Tanpa Penyesalan
Sejak bergabung dengan Honda pada 2023, Mir menjadi salah satu pembalap yang paling sering mengalami kecelakaan. Meski performanya meningkat sejak paruh kedua musim 2025 dengan raihan podium di Motegi dan Sepang, jumlah insiden belum menurun, terutama di momen krusial balapan.
Meski demikian, Mir menegaskan tidak akan mengubah pendekatannya. Ia mengaku pernah mengalami masa sulit pada 2023 dan 2024 saat menurunkan ekspektasi, dan tidak ingin mengulanginya.
“Saya ingin memulai balapan dengan keyakinan bahwa saya punya peluang. Saya tidak ingin kembali ke fase merasa tidak punya kesempatan,” ujarnya.
Mir juga menilai kecelakaan yang dialaminya bukan kebetulan. Ia menyebut risiko jatuh meningkat saat berada dalam rombongan pembalap, terutama karena efek slipstream dan aerodinamika.
“Ketika saya sendirian, saya bisa melaju cepat dan cukup aman. Namun saat mengikuti pembalap lain, saya harus mengambil risiko lebih besar. Jika harus mengejar posisi, risikonya berlipat dan peluang jatuh meningkat,” kata Mir.
Terkait insiden di Austin, ia menegaskan tidak ada penyesalan atas gaya balapnya. “Saya memang harus melakukannya. Saya tidak menyesal, dan tim juga mendukung saya,” ujarnya.
