Home / Hukum & Kriminal / Wakil Bupati Bengkalis bakal diperiksa terkait proyek pipanisasi

Wakil Bupati Bengkalis bakal diperiksa terkait proyek pipanisasi

Wakil Bupati Bengkalis, Muhammad.

Pekanbaru (Antarariau.com) – Wakil Bupati Bengkalis Muhammad tampaknya bakal terseret pusaran kasus korupsi pengadaan dan pemasangan pipa transmisi di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, yang merupakan proyek di tahun anggaran 2013.

Sebab saat proyek Pipa Transmisi PE 100 DN 500 MM yang menelan anggaran sebesar Rp3.415.618.000 itu, Muhammad menjabat sebagai Kepada Dinas Provinsi Riau.

Sejumlah mantan pejabat di Dinas PU Riau sudah diperiksa Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Riau guna mendalami kasus ini. Meski demikian belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Belum ada tersangka, masih memeriksa saksi-saksi,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo di Pekanbaru, Kamis (8/6/2017).

Proyek ini bermasalah karena seharusnya sudah selesai pada 16 Desember 2013, tapi hingga 2014 masih saja dikerjakan. Dan hingga kini pipa sepanjang dua kilometer terlihat masih membujur di sebelah kanan sepanjang jalan dari arah Tembilahan-Sungai Salak. Tampak seperti ular raksasa yang menghalangi jalan masuk rumah penduduk, padahal seharusnya itu ditanam ke dalam tanah.

Selain Muhammad, juga Mantan Kadis PU saat proyek direncanakan yakni SF Harianto yang kini sudah pindah ke Kementrian juga akan diperksa.

Temuan ini dilaporkan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Selain ke Polda Riau, temuan ini juga dilayangkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati). Satu diantaranya oleh LSM Indonesian Monitoring Development (IMD).

Muhammad dilaporkan selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KUA) saat menjadi Kepala Dinas PU. IMD juga melaporkan Direktur PT Panatori Raja, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Edi Mufti BE, Sabar Stevanus Simalango dan mantan Kadis PU Riau SF Hariyanto.

Dalam laporannya IMD menduga Kadis PU Muhammad ketika itu justru menandatangani Berita Acara serah terima pertama pekerjaan alias Provisional Hand Over (PHO), padahal dikerjakan telat. Hal inilah yang membuat kecurigaan semakin mencuat.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: