Home / News / Internasional / Pria ini diancam dibunuh gara-gara namai anaknya Donald Trump

Pria ini diancam dibunuh gara-gara namai anaknya Donald Trump

Sayed Assadullah Pooya bersama Donald Trump, anaknya. (Kredit: AFP/iNews)

Kabul (RiauNews.com) – Memberi nama kepada anak adalah hak setiap orang tua, dan orang lain tak boleh ikut campur. Meski demikian, sebaiknya nama yang diberikan terhadap si buah hati adalah yang baik, sebab nama adalah doa. Atau juga jangan memberi nama tokoh yang dibenci masyarakat, sehingga bisa merepotkan diri sendiri di kemudian hari.

Seperti yang dilakukan seorang ayah warga Afghanistan, yang memberi namanya sama dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.



Pria yang diketahui bernama Sayed Assadullah Pooya ini sekarang menjadi bahan pembicaraan di jagad maya, yang sayangnya bukan berupa sebuah pujian, malah cacian hingga ancaman pembunuhan.

Sayed sendiri berharap anaknya itu bisa sesukses Presiden Amerika Serikat, Trump. Dan, informasi ini menjadi viral sejak fotonya beredar di Facebook.

Menurut Sayed, dia dan istrinya diintimadasi dengan kata-kata vulgar dan menghina, untuk menunjukkan ketidaksukaan dengan pilihan mereka menamai anaknya Donald Trump. Bahkan, ada beberapa pengguna Facebook yang mengancam akan membunuh Sayed.

Tak cuma di dunia maya, ancaman pembunuhan itu juga datang dari tetangganya sendiri. Saat ini, dia menetap di permukiman Syiah di Kabul.

“Saat saya keluar rumah, saya selalu diintimidasi,” kata Sayed, dikutip dari AFP, Minggu (18/3/2018).

Banyak pula yang memberikan saran agar Sayed mengganti nama anaknya. Pasalnya mereka khawatir Donald akan menjadi sasaran kejahatan.

Selain itu, ada pula pihak yang menuding Sayed sengaja menggunakan nama tersebut agar suatu saat dia mudah mendapatkan suaka di AS. Namun tuduhan itu ditolaknya.

“Pada awalnya saya tak tahu kalau masyarakat Afghanistan sensitif engan nama itu,” kata dia.

Donald dilahirkan di daerah pertanian di Provinsi Daikundi, beberapa bulan sebelum pemilihan presiden AS pada 2016 berlangsung.

Dia tertarik menggunakan nama itu setelah membaca buku-buku berbahasa Persia yang bercerita mengenai biografi pebisnis.

“Saya banyak melakukan riset mengenai dia (Trump) dan itu memotivasi saya untuk memilih nama untuk anak saya,” ujarnya, menjelaskan.

Meski diintimadasi, pria yang berprofesi sebagai guru itu belum memutuskan apakah akan mengganti nama anaknya atau tidak.

Amerika Serikat bagi mayoritas warga Afghanistan dianggap sebagai “penjajah”, yang menyerang negara tersebut hingga hancur porak-poranda karena Taliban menguasai negara tersebut beberapa tahun lalu.

Hingga kini sejumlah tentara Amerika masih ditempatkan di negara tersebut, dan pemerintahan Afghanistan saat ini bisa dikatakan “dikontrol” oleh Washington.****

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: