10 Desember 2018
Home / Featured / Plt Gubri harap buku biografi M Joebhaar jadi lampu penerang Riau di masa datang

Plt Gubri harap buku biografi M Joebhaar jadi lampu penerang Riau di masa datang

TEKS=Dari kiri: Ketua DPRD Riau Septina Primawati, Plt Gubri Wan Thamrin Hasyim, Eddy Tanjung, mantan Wagubri Rivaie Rachman, Sekdaprov Ahmad Hijazi dan Soemardhi Taher, foto bersama usai peluncuran buku biografi M Joebhaar, Ahad (23/9/2018). (Kredit: istimewa)

PEKANBARU (RiauNews.com) – Ahad (23/9/2018), menjadi salah satu hari yang paling berkesan bagi keluarga besar almarhum M Joebhaar, seorang pamong yang pernah menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Riau. Bertempat di Hotel Arya Duta Pekanbaru, keluarga besar almarhum meluncurkan buku Perjalanan Hidup & Karir M Joebhaar: Pamong Pejuang.

Hadir dalam peluncuran buku ini, Plt Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim, Ketua DPRD Riau Septina Primawati, Sekretaris Daerah Riau Ahmad Hijazi, mantan Wakil Gubernur Riau Rivaie Rachman, tokoh masyarakat Riau Roslaini Ismail Suko, Djufri Hasan Basri, Soemardhi Taher, Alaiddin Koto, Makmur Hendrik, mantan Wabup Rokan Hulu Auni M Noer, sejumlah anggota DPR RI dan anggota DPRD Riau, serta ratusan undangan.



Sedangkan dari keluarga besar alm M Joebhaar, hadir sang istri Hj Zoel Emma Noerdin, anak-anak yang berjumlah 8 orang, menantu, 32 cucu dan 23 cicit. Salah seorang menantu pamong pejuang ini, adalah Nurzahedi (Eddy Tanjung), anggota DPR RI Dapil Riau 2.

Eddy Tanjung saat menyampaikan sambutan atau sekapur sirih mewakili keluarga, menjelaskan, pembuatan buku ini merupakan penghormatan terhadap ayahanda dan opa. “Beliau sosok yang sangat berarti dan berjasa dalam kehidupan kami sekeluarga dan masyarakat Riau. Beliau bukan saja sosok ayahanda yang sangat baik, tapi sosok pejuang, pamong dan pemimpin bagi masyarakat Riau,” tutur Eddy Tanjung.

Ia berharap buku biografi ini bisa menjadi cambuk bagi generasi muda Riau untuk berkarya dan membangun negeri ini lebih baik lagi. M Joebhaar yang lahir 15 Mei 1923 di Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera Barat ini, dalam perjalanan karir kepamongannya, pernah menjadi Sekdakab Solok (1950-1952), Sekdakab Kampar (1952-1954), Wedana Lingga (1954-1959), Patih di Pemdakab Indragiri (1959-1963), Patih di Pekanbaru (1963-1964). Kemudian ditarik ke Kantor Gubernur Riau menjadi Kabag Desa (1964-1965), hingga mencapai puncak karirnya menjadi Sekda Provinsi Riau pada tahun 1965-1967.

Setelah menjadi Sekda, selama 12 tahun menjelang pensiun di tahun 1979, Joebhar dipercaya menjabat Kepala Direktorat Pembangunan Tk. I Riau (1967-1970), Kepala Inspektorat Umum Tk. I Riau (1970-1973) dan Kepala Inspektorat Wilayah Dati I Riau (1973-1979). Di saat sudah pensiun dari PNS, pamong yang ikhlas dalam bekerja ini, pernah dipercaya selama dua tahun menjabat Direktur Utama PD Percetakan Riau (1979-1981). Dan Joebhaar wafat di Jakarta, 8 Juli 1996.

Bagi anak-anak dan menantunya, seperti disampaikan Eddy Tanjung, Joebhaar juga menjadi teman untuk bertukar pikiran dan diskusi. “Bahkan saya sering main catur bersama beliau, dan habis itu diskusi. Yang tidak bisa saya lupakan, beliau kalau berkunjung ke rumah kontrakan tempat kami tinggal di Jl Soetomo (tak jauh dari rumah Joebhaar, red), selalu bawa kue,” cerita Eddy.

Di mata mantan Wagubri Rivaie Rachman, sosok Joebhaar mulai ia kenal ketika dirinya masih mahasiswa. “Saat itu Pak Joebhaar menjadi Patih di Rengat. Saya masih mahasiswa. Setiap lebaran saya datang berlebaran ke rumahnya. Pak Joebhaar sering bantu masjid. Kendati sudah jadi pejabat tinggi di Pemprov Riau, Pak Joebhaar tak pandai cari uang, dia orangnya sederhana, pamong pejuang yang penuh dedikasi,” ujar Rivaie Rachman mengisahkan sosok Joebhaar.

Sementara, Plt Gubri Wan Thamrin Hasyim dalam sambutannya saat peluncuran buku yang disusun oleh AZ Fachri Yasin dan Erison Maas ini, mengatakan, figur Joebhaar yang penuh dedikasi dan ikhlas dalam bekerja, sangat patut menjadi contoh bagi generasi muda Riau.

“Saya memang tidak begitu kenal dekat dengan beliau. Saat itu saya hanya kenal serpihan-serpihan saja. Saya waktu itu hanya tukang pegang map. Jabatan beliau terlalu tinggi di atas saya. Kalau dengan Pak Rivaie Rachman tentu beliau sangat dekat,” kata Wan Thamrin.

“Saya apresiasi kepada pak Eddy Tanjung dan keluarga besar pak Joebhaar yang telah membuat buku biografi ini, semoga buku ini menjadi lampu penerang Riau di masa datang,” ujarnya lagi.

Pengantar buku setebal hampir 300 halaman ini, ditulis oleh Prof Dr Alaiddin Koto, MA. Dalam pengantarnya, Alaiddin menulis bahwa, dari seorang Joebhaar, paling tidak, dirinya melihat ada dua pesan penting yang perlu ditarik sebagai pelajaran (muaizhah) atau peringatan (zikra) untuk anak cucu dan untuk generasi bangsa Indonesia yang kini seperti hampir kehilangan arah, kalau tidak boleh disebut kehilangan ghirah dan gairah kehidupan ke masa . (Tien)

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: