19 November 2018
Home / News / Politik / Pakar: Gerakan #2019GantiPresiden bukan makar

Pakar: Gerakan #2019GantiPresiden bukan makar

Gerakan dengan tagar #2019GantiPresiden viral di media sosial. (Kredit: Twitter/Muhammad Al-Fatih @Al_Fatih1453__

Jakarta (RiauNews.com) – Saat ini media sosial sedang diramaikan dengan perbincangan ke arah politik yang berkaitan dengan Pemilihan Presiden 2019 mendatang. Yakni gerakan dengan tagar #2019GantiPpresiden.

Sebagian warganet menilai ini meruapakan gerakan berbau makar dan mau menggulingkan pemerintahan yang sah, namun sebagian yang lain menganggap hal ini adalah hak sebagai warga negara yang konstitusional dalam memilih kepala negara dalam Pilpres mendatang.



Mardani Ali Sera, warganet dengan akun @MardaniAliSera di Twitter menulis, “Apakah Gerakan Presiden 2 Periode, Provokatif & inkonstitusional? Apakah kampanye Lanjutkan Jokowi, provokatif & inkonstitusional? Kenapa Gerakan Presiden 1 periode saja, dianggap Provokatif? Kenapa Gerakan #2019GantiPresiden di anggap kmpanye Provokatif & inkonstitusional?”

Ini sebagai bentuk pertanyaan balik atas kritikan yang dicuitkan Dedi #2Badja dengan akun @dedipriyuk “Hati hati! Terhadap gerakan PROVOKATIF 2019 Ganti Presiden @mardanialisera. Ini bisa memecah belah bangsa. Jangan Mudah Dihasut, kecuali anda umatnya Habib yg kabur ke arab”

Pakar media sosial Enda Nasution mengatakan, gerakan #2019gantipresiden bukan gerakan makar. Sebab, gerakan makar berarti menggulingkan pemerintah yang sah, salah satunya melalui kekerasan.

Menurut dia, gerakan tersebut tidak menyalahi konstitusi karena sudah sesuai dengan sistem, yaitu pesta demokrasi lima tahunan. “Kan memang pada tahun 2019 akan ada pilpres lagi nanti,” kata dia yang dilansir oleh Republika.

Enda menjelaskan, grup itu menunjukkan ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang punya aspirasi untuk mengganti presiden. Apalagi Indonesia menganut sistem demokrasi.

“Karena sudah masuk ke tahun pilpres, ada trigger atau tidak, pasti akan ada yang menyerukan pilih lagi, dan ada yang pengen ganti,” tutupnya.

Enda menyampaikan, mereka yang mengusung tagar #2019GantiPresiden agar perlu lebih memiliki argumentasi, data, dan solusi. “Namun, kalau boleh saran mungkin jangan cuma asal ganti, tetapi juga beri solusi, siapa yang diharap bisa jadi calon pengganti,” kata Enda.

Hal itu diperlukan untuk meyakinkan masyarakat sehingga tidak gerakan tagar saja. Karena kalau sekadar tagar, ratusan tagar muncul setiap hari di media sosial.

Sebelumnya, salah seorang inisiator gerakan 2019 Ganti Presiden, Neno Warisman, kaget melihat antusiasnya masyarakat menyambut kampanye tersebut. Neno mengaku awalnya dia hanya membentuk WAG untuk grup majelis taklim yang diikutinya.

Menurut dia, anggota yang ada di dalam grup WA itu memiliki satu misi, yakni berkeinginan pemilu mendatang menghasilkan presiden baru. “Kami melarang tidak boleh membicarakan sosok capres. Meski di grup ini terdiri dari berbagai pendukung capres di pilpres nanti,” kata Neno menegaskan.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: