21 November 2018
Home / News / Nasional / Mendikbud: Sekolah lima hari takkan matikan MDA

Mendikbud: Sekolah lima hari takkan matikan MDA

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Jakarta (RiauNews.com) – Adanya kecemasan dari sejumlah pihak tentang rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan kebijakan lima hari sekolah per delapan jam sehari dalam sepekan, langsung ditanggapi oleh menteri yang bersangkutan, Muhadjir Effendy.

Salah satu yang dikhawatirkan masyarakat adalah akan matinya sekolah-sekolah agama “pendamping”, seperti madrasah diniyah, karena para siswa harus berada di sekolah selama delapan jam.

Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, kebijakan sekolah delapan jam sehari atau lima hari dalam sepekan tidak berarti membuat siswa akan belajar selama delapan jam di kelas.

“Orang tua dan masyarakat jangan membayangkan kebijakan ini membuat siswa berada di kelas sepanjang hari. Kebijakan ini ingin mendorong siswa melakukan aktivitas yang menumbuhkan budi pekerti, serta keterampilan abad 21,” katanya dalam keterangan tertulis.

Mendikbud menginstruksikan pada guru untuk menghindari kegiatan ‘ceramah’ dalam kelas dan mengganti dengan aktivitas positif. Aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah tetapi juga di tempat publik.

“Artinya, perbandingan porsi proses belajar, yakni 70 persen pembentukan karakter dan 30 persen pengetahuan,” kata dia.

Dia menyebutkan tempat publik itu seperti surau, masjid, gereja, pura, lapangan sepakbola, museum, taman budaya, dan sanggar seni. “Salah satunya, yakni mengikuti madrasah diniyah, bagi siswa muslim.

Mendikbud menyebut, setiap guru wajib mengetahui dan memastikan di mana dan bagaimana siswanya mengikuti pelajaran pendidikan agama sebagai bagian dari penguatan nilai relijiusitas. Guru juga wajib memantau siswanya agar terhindar dari pengajaran sesat atau mengarah pada intoleransi.

Karena itu, Mendikbud menolak tudingan yang menyebut bersekolah selama delapan jam sehari dapat menggerus keberadaan madrasah diniyah. Menurutnya, kebijakan ini justru membuat semakin banyak siswa menempuh sekolah agama.

Sekolah agama itu justru dapat diintegrasikan dengan pembentukan karakter. “Madrasah diniyah justru diuntungkan karena akan tumbuh dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat bersinergi dengan sekolah dalam menguatkan nilai karakter religius,” kata dia.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: