10 Desember 2018
Home / News / Nasional / Ini arti “Kartu Kuning” mahasiswa UI untuk Jokowi

Ini arti “Kartu Kuning” mahasiswa UI untuk Jokowi

Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI yang memberikan “kartu kuning” pada Presiden Joko Widodo. (Kredit: Tribunnews)

Jakarta (RiauNews.com) – Presiden Joko Widodo mendapatkan kejutan saat menghadiri dies natalis ke-68 Universitas Indonesia (UI), pada Jumat (2/2/2018) pagi tadi. Usai memberikan kata sambutan, seorang mahasiswa yang bernama Zaadit Taqwa, yang tak lain merupakan Ketua BEM UI, “menghadiahkan kartu kuning” kepada Jokowi.

Aksi ini tak berlangsung lama dan mengganggu jalannya acara, sebab Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) yang berada di dekatnya dengan sigap langsung langsung menggiring Zaadit keluar dari ruangan.



Diwartakan oleh Republika, ketika ditemui Zaadit menuturkan, aksi yang dilakukannya merupakan bentuk evaluasi bagi Jokowi dan Kabinet Kerja yang dipimpinnya.

“Jadi ngasih peringatan buat Jokowi untuk menyelesaikan permasalahan bangsa,” ujarnya.

Mahasiswa beri “kartu kuning” pada Presiden Joko Widodo saat acara Dies Natalis Universitas Indonesia.

Zaadit menuturkan, sebelum kedatangan Jokowi ke universitasnya, dia dan sejumlah mahasiswa UI lain telah menyiapkan tiga tuntutan yang dalam aksi di Stasiun Kereta API UI. Pertama, BEM UI meminta Jokowi segera menyelesaikan gizi buruk di Papua. Kedua, Jokowi harus bisa menetapkan Penjabat Gubernur agar tidak seperti Orde Baru di mana ada dwifungsi Polri, di mana anggota polisi aktif justru memegang jabatan selain di lembaganya.

Terakhir, terkait mengenai aturan bahwa mahasiswa bisa bergerak dan berorganisasi serta berkreasi secara aktif, tidak dikukung oleh peraturan yang membatasi ruang gerak mahasiswa. Dengan aksi ‘kartu kuning’ yang dilakukannya, Zaadit menyebut bahwa hal ini dijalankan untuk mempercepat tanggapan dari Jokowi, karena tiga hal yang dituntutnya sudah memakan banyak korban, khususnya tentang perbaikan gizi.

“Ini bentuk simpati ke teman-teman kita di Papua, bahwa Papua perlu diperhatikan. Papua juga bagian dari masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kartu kuning yang dibawa pada aksi tersebut merupakan buku paduan suara. Karena pengawasannya sangat ketat dari Paspampres, maka tercetus akan untuk menggunakan buku tersebut agar bisa masuk ruangan tanpa mendapat halangan dari pihak keamanan.

“Ini spontan karena sebenarnya sudah menyiapkan rencana, tapi berubah-ubah menyesuaikan dengan kondisi di dalam ruangan,” papar Zaadit.

Zaadit pun memastikan aksi ini bukanlah yang terakhir. BEM UI berencana melakukan aksi yang lebih besa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi pemerintahan Jokowi.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: