19 Agustus 2018
Home / News / Kesehatan / Ini alasannya BPOM larang masyarakat gunakan Albothyl

Ini alasannya BPOM larang masyarakat gunakan Albothyl

Albothyl produksi Pharos.

Pekanbaru (RiauNews.com) – Obat Albothyl begitu populer di masyarakat, terutama bagi yang pernah sariawan. Namun penggunaan obat ini ternyata tak disarankan oleh dokter gigi sebagaimana sebuah cuitan seorang selebtweet dengan 8 ribuan pengikut, @cho_ro, yang mengucapkan selamat kepada teman-temannya yang berprofesi sebagai dokter gigi, bahwa perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia.

Ternyata, hal ini juga diamini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang meminta masyarakat agar tidak mengkonsumsi Albothyl, hingga adanya klarifikasi resmi.



Dilansir Kumparan, Kepala BPOM Penny K. Lukito, membenarkan adanya surat tersebut. Kini dirinya mengimbau kepada masyarakat agar sementara tidak menggunakan Albothyl terlebih dahulu.

Ini merupakan kedua kalinya Pharos, selaku perusahaan farmasi yang memproduksi Albothyl, produk mereka bermasalah di Indonesia.

Sebelumnya juga hangat diberitakan bahwa produk mereka lainnya, ViostinDS, terbukti mengandung DNA babi.

Menanggapi hal tersebut, Director of Corporate Communication PT Pharos Indonesia Ida Nurtika mengatakan, perusahaannya masih terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl tersebut. Selain itu, PT Pharos juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan BPOM.

“Saat ini kami masih terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl. Kami juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan BPOM dan akan segera menyampaikan informasi resmi terkait hal ini kepada mayarakat,” kata Ida saat dikonfirmasi oleh Republika.co.id.

Sementara dilansir oleh DetikHelath, Policresulen, kandungan obat sariawan pada Abothyl yang cukup populer di masyarakat, tengah jadi perbincangan. Produk yang ada saat ini dianggap punya risiko yang lebih besar dibanding manfaatnya.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg Hananto Seno, SpBM menyebut konsentrat policresulen 36 persen bisa memicu kerusakan mukosa atau lapisan pada rongga mulut. Seharusnya, obat tersebut diencerkan dahulu dalam air dengan perbandingan 1:5, baru dioleskan.

“Kami sebenarnya ingin membuat obat tersebut dalam kondisi sudah diencerkan, bukan utuh. Tapi butuh biaya untuk penelitian dan segala macam. Selain itu, albothyl kan juga sudah dapat izin edar dari BPOM, jadi mereka yang lebih punya kuasa,” kata drg Hananto.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: