18 Agustus 2018
Home / Hukum & Kriminal / Dua mahasiswa Rohul ditangkap karena peras anggota Dewan

Dua mahasiswa Rohul ditangkap karena peras anggota Dewan

(ilustrasi)

Pasirpengaraian (RiauNews.com) – Dua orang mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Rokan Hulu (Himarohu), Provinsi Riau, dibekuk tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polres setempat, karena diduga memeras Teddy Mirza Dal, anggota DPRD Rohul yang sedang tersandung masalah hukum.

“Kedua mahasiswa yang berinisial P (21) dan R (26) ditangkap dengan barang bukti uang Rp10 juta, yang diduga hasil pemerasan,” sebut Kapolres Rokan Hulu, AKBP Yusup Rahmanto, Kamis (28/9/2017).

AKBP Yusup kemudian menjelaskan kronologinya. Sebelumnya kedua mahasiswa itu mendatangi Teddy Mirza untuk memberitahu bahwa mereka akan menggelar unjuk rasa atau demonstrasi.



Mereka menunjukan selembar surat pemberitahuan aksi massa dari mahasiswa yang tergabung dalam Himarohu Nusantara.

“Demo itu terkait dengan masalah hukum yang sedang dihadapi oleh korban, kemudian mahasiswa tersebut mengajak korban bertemu di Hotel Sapadia sekitar pukul 23.00 WIB dengan maksud agar aksi unjuk rasa terhadap korban tidak dilaksanakan dengan meminta uang kepada korban sebanyak Rp50 juta,” kata Kapolres.

Setelah negosiasi, korban mengatakan bahwa dirinya hanya menyanggupi Rp10 juta, dan kedua pelaku setuju.

“Namun sebelum uang diserahkan, korban melapor ke polisi bahwa dirinya diperas,” lanjutnya.

Saat penyerahan uang dilakukan di Hotel Sapadia, Senin (25/9) sekitar pukul 23.15 WIB, petugas saber pungli langsung membekuk keduanya.

“Keduanya dijerat pasal 368 juncto pasal 369 KUHP, lantaran mereka melakukan ancaman pencemaran baik dengan lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia.” ujar Kapolres.

Rahasisa yang dimaksud adalah kasus hukum yang menimpa Teddy Mirzal Dal. Sebelumnya, Teddy sudah divonis bersalah pada sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rokan Hulu, Mahmuriadin pada 16 Desember 2014.

Teddy juga dibebankan denda Rp1,5 miliar karena membuka lahan 50 hektare di kawasan hutan Desa Kubu Pauh Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Kasus ini ditangani oleh Polda Riau.

Teddy dijerat pasal 19 Undang-undang No. 18 tahun 2013 tentang Penanggulangan dan Pencegaan Pengrusakan Kawasan Hutan. Namun, setelah vonis Teddy tidak ditahan oleh Kejaksaan Negeri Rokan Hulu dengan alasan tidak ada perintah dari hakim pengadilan setempat.

Teddy juga melakukan upaya banding pascaputusan tersebut. Demikian Antara.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: