14 Desember 2018
Home / News / Nasional / Amnesty Internasional sebut Ahok dan Gafatar korban politik kebencian

Amnesty Internasional sebut Ahok dan Gafatar korban politik kebencian

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.

Jakarta (RiauNews.com) – Kasus pelecehan dan penodaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang menghebohkan publik pada rentang 2016-2017, dan berakhir dengan vonis dua tahun penjara untuk Ahok, dianggap Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid sebagai catatan penegakan hitam hak azasi manusia (HAM) di Indonesia.

Usman mengatakan Ahok merupakan korban dari praktek politik kebencian marak digelar dalam dipakai dalam Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Politik Kebencian yang dipakai aktor negara dan non negara untuk memecah belah masyarakat itu berdampak panjang terhadap kehidupan sosial dan politik,” kata Usman saat konferensi pers di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).

Menurut Usman, vonis yang diterima oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta adalah produk politik kebencian yang akan tercatat dalam sejarah HAM Indonesia. Usman mengatakan, lawan politik Ahok menggunakan sentimen anti-Islam untuk memenjarakan Ahok.

“Pimpinan kelompok seperti FPI, Rizieq Shihab menggunakan retorika kebencian untuk menggerakkan massa agar mendorong polisi memproses hukum Ahok atas tuduhan menista agama,” kata Usman.

Menurut Usman, narasi kebencian terhadap Ahok tak lain didasari statusnya yang merupakan kelompok minoritas agama dan etnis. Tak cuma Ahok, diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Indonesia juga menimpa pihak lain.

Selama 2017, Amnesty Internasional mencatat sebanyak 11 orang dihukum menggunakan pasal penodaan agama yang menyasar individu dari agama maupun keyakinan minoritas. Beberapa contohnya yaitu Ahmad Mushaddeq, Mahful Muis, Tumanurung dan Andry Cahya dari Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar.*** (Tempo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: