Home / Tokoh / Sering Dicekoki Cerita Politik, Hantarkan Yulianti ke Bangku DPRD Riau

Sering Dicekoki Cerita Politik, Hantarkan Yulianti ke Bangku DPRD Riau

Hajjah Yulianti SH MH, Anggota DPRD Provinsi Riau

 

Tidak pernah bermimpi menjadi anggota legislatif, namun karena sering diajak berdiskusi seputar dunia politik oleh sang suami, akhirnya membuat Hajjah Yulianti SH MH benar- benar menekuninya.

Seperti dituturkan Yulianti kepada RiauNews.com, istri politikus ternama, DR Drh Chaidir MM ini, menyebutkan bahwa peran suami sangat berpengaruh besar dalam membangun konsep berpolitik pada dirinya, sehingga ia merasa memiliki kematangan berfikir dan bertindak saat menekuni pengabdian sebagai anggota DPRD Riau.

“Dua kali saya gagal mengikuti tes PNS, namun kali ketiga akhirnya saya dinyatakan lulus di Kejaksaan, namun suami tidak mengizinkan dan akhirnya saya mundur. Sebagai seorang istri, saya sering mendengarkan curhat Bapak seputar pekerjaannya yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPRD Riau. Seperti dimentori, lama kelamaan saya malah tertarik dengan kehidupan berpolitik dan memiliki keinginan besar untuk benar- benar menggelutinya,” ungkap politisi cantik berhijab ini.

Lian, demikian Yulianti akrab disapa, meniti karir politik melalui Partai Demokrat. Berbeda dengan sang suami yang telah bertungkus lumus sebagai tokoh terkenal dari Partai Golkar, meskipun di penghujung harus meninggalkan Golkar akibat riak politik yang terjadi saat itu. Semantara Lian, terpaksa harus meninggalkan jabatannya sebagai Wakil ketua KPPG dan Ketua Himpunan Wanita Karya Provinsi Riau (organisasi sayap partai Golkar) demi mengikuti langkah suami meski telah tiga tahun ia geluti.

Lian, bersama sang suami tercinta, DR Drh Chaidir MM

“Pilihan terhadap Partai Demokrat saya fikir sangat tepat karena partai yang didirikan Presiden SBY ini diproyeksikan sebagai partai politik modern,” demikian diungkapkan Lian.

Pengalaman berorganisasi diakui Lian telah ia mulai sejak dibangku SMP dan SMA. Berawal sebagai pengurus OSIS, dan pada masa Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, ia sudah tidak kagok lagi ketika dipercaya sebagai Bendahara Senat Mahasiswa. “Manfaat berorganisasi yang saya rasakan, selain sebagai wadah untuk memperluas wawasan berfikir juga membantu membangun komunikasi interpersonal,” imbuh Lian.

Berbekal ilmu dan pengalaman berorganisasi serta dukungan penuh sang suami, wanita kelahiran Pekanbaru, 21 Juli 1974 ini, akhirnya memantapkan langkah ikut bertarung dalam Pemilihan Legislatif 2014 DPRD Riau periode 2014 – 2019, sebagai utusan Daerah Pemilihan Kabupaten Rokan Hulu yang merupakan kampung asal orang tuanya, yaitu Rokan IV Koto.

Keberhasilan Lian merebut salah satu kursi Legislatif DPRD Riau, membuatnya bertekad untuk benar- benar menjadi seorang wakil rakyat yang aspiratif. Namun, selama ia melaksanakan tugas, tentu saja banyak waktu tersita dan berkurangnya masa untuk berkumpul dengan keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri bagi suami dan ibu bagi anak- anaknya.

“Alhamdulillah, suami tidak pernah protes bila beban kerja sebagai anggota legislatif sangat tinggi. Apalagi suami saya sangat paham bagaimana posisi seorang anggota dewan karena beliau lebih dahulu meniti karir di dunia politik. Sementara anak- anak ada yang sudah berkeluarga dan lainnya masih kuliah di Jakarta serta Jerman. Bila berada di rumah, saya tetap sebagai seorang istri dengan kewajiban melayani suami, seperti memasakkan makanan kesukaan beliau dan lainnya,” paparnya panjang lebar.

Terlahir dari pasangan  Zaini Jafar SH dan Hajjah Zulfa, Lian menyebutkan terlanjur cinta terhadap kehidupan berpolitik, namun apa yang ia perbuat selama menjadi wakil rakyat, terutama bagi daerah pemilihan Rokan Hulu, dirasakannya masih kurang.

“Saya akui belum banyak berbuat untuk rakyat karena keterbatasan kewenangan dan anggaran pemerintah. Untuk itu saya ingin memperjuangkan terus aspirasi rakyat dan Insya Allah Pileg 2019 ini, saya masih ingin maju sebagai anggota DPRD Riau. Selajutnya, bila Allah memberikan jalan dan kemudahan, kedepan saya ingin melanjutkan perjuangan sebagai Kepala Daerah, khususnya di Kabupaten Rokan Hulu. Alasannya, untuk merubah suatu kondisi agar lebih, kita tidak bisa berada diluar sistem, tetapi harus berada didalamnya dan yang paling tepat adalah sebagai penggerak sistem itu sendiri. Artinya, bila saya memegang posisi eksekutif, maka seluruh ide untuk percepatan pembangunan daerah di berbagai lini, akan lebih mudah untuk diwujudkan sesuai kondisi politik, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Diakui Kandidat Doktor Universitas Islam Bandung ini, dinamika dunia politik sangat sulit untuk diprediksi karena ada kalanya apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi hal itu lumrah terjadi.

“Tidak ada istilah kalah atau menang dalam dunia politik, kalaupun tidak terpilih bukan berarti kita kalah, justru hal tersebut menjadi barometer utama sebagai langkah kemenangan,” pungkas Yulianti mengakhiri pembicaraan.***

 

Reporter : Gusti Ditien Champa

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: