Home / Spesial Riau / Rokan Hulu / Masyarakat tolak pembangunan waduk di Sungai Rokan

Masyarakat tolak pembangunan waduk di Sungai Rokan

Waduk PLTA Kotopanjang di Kabupaten Kampar.

Pasirpengaraian (RiauNews.com) – Pemerintah berencana akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan cara membendung Sungai Rokan di Kecamatan Rokan IV Koto, Rokan Hulu.

Namun empat desa di kecamatan tersebut yang terkena dampak pembangunan waduk, menolak proyek nasional tersebut dengan alasan akan banyak mudaratnya, dan juga nasib mereka akan sama dengan perkampungan saat proses pembangunan PLTA Koto Panjang, Kabupaten Kampar.

“Bila kita kaji, nantinya daerah kita akan mendapat dampak lebih banyak mudarat daripada manfaatnya,” tegas ‎Riki Zaputra, salah seorang putra daerah Desa Cipang Kiri Kecamatan Rokan IV Koto, sebagaimana dilansir Antara Rabu (30/8/2017).

Riki yang juga Ketua Umum Gerakan Anak Muda Riau (GAMA Riau) ini menyebutkan, bila proyek PLTA Lompatan Harimau Sungai Rokan dengan dana lebih dari Rp2 triliun jadi dibangun pemerintah, maka sekitar 8.000 jiwa penduduk di empat desa terancam nasibnya dan terpaksa mereka harus pindah dari kampungnya.

Dari analisa dan kajian pihak pemerintah pusat, hanya empat kampung yang akan terkena dampaknya dan akan direlokasi atau dipindahkan ke Kampung Tinggi yang masih daerah kawasan hutan, seperti Kampung Lubuk Ingu, Pangkalio, Banjar Datar, dan Kampung Tibawan.

“Namun fakta yang ditemukan, bakal ada empat desa di Kecamatan Rokan IV Koto yang bakal terkena dampaknya, seperti Desa Cipang Kiri Hilir, Desa Cipang Kiri Hulu, Desa Tibawan, dan Desa Cipang Kanan,” kata Riki yang juga dosen di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

Dirinya berharap, agar pemerintah mengkaji ulang pelaksanaan proyek PLTA di Lompatan Harimau Sungai Rokan tersebut. Apalagi, masyarakat empat desa di Rokan IV Koto akan membuat forum penolakanu.

“Memang itu merupakan proyek nasional, namun kalau lebih besar mudarat daripada manfaatnya bagi masyarakat tempatan kami menolaknya,” tegas Riki.

Informasinya, masyarakat di empat kampung, akan dipindahkan ke Kampung Tinggi, sementara wilayah itu masih hutan belantara. Kemudian, dampak buruk lain dengan dibangunnya PLTA Lompatan Harimau, sambung Riki, akan ganggu kultur budaya setempat, karena akan banyak warga yang direlokasi dari kampungnya sementara mereka sudah hidup sudah sejak lama di kampung tersebut.

Kemudian, pembangunan PLTA Lompatan Harimau juga dinilai akan rusak ekosistem Sungai Rokan yang selama ini sebagai tempat warga mencari ikan untuk menopang ekonomi keluarga di daerah tersebut.***

Baca Juga

Ternyata PT EMA tak pernah salurkan CSR

Pasirpengaraian (RiauNews.com) – Pabrik kelapa sawit milik PT Eluan Mahkota (EMA) yang saat ini disegel ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: