21 September 2018
Home / Spesial Riau / Indragiri Hilir / BKSDA belum pastikan apakah harimau yang menerkam Yusri dan Jumiati sama

BKSDA belum pastikan apakah harimau yang menerkam Yusri dan Jumiati sama

Harimau Sumatera.

Pekanbaru (RiauNews.com) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau masih berupaya mengidentifikasi harimau Sumatera (Panthera Tigris sumatrae) yang menerkam Yusri Efendi (34) di Kabupaten Indragiri Hilir hingga tewas pada Sabtu (10/3/2018) kemarin, sama dengan yang menghabisi nyawa Jumiati, dua bulan lalu.

“Kami masih meneliti harimau yang menerkam Yusri hingga meninggal. Apakah memang harimau yang selama ini kami cari atau lainnya,” kata Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo di Peanbaru, Ahad (11/3/2018).

Diberitakan sebelumnya, Yusri Efendi, seorang buruh bangunan diterkam harimau usai mengerjakan bangunan sarang burung walet di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir pada Sabtu malam.

Sementara pada Januari 2018 lalu, seorang warga bernama Jumiati juga meninggal dunia karena diserang harimau. Perempuan berusia 33 tahun itu diserang raja hutan saat sedang melakukan perawatan sawit di tempat ia bekerja, PT Tabung Haji Indo Plantantion (THIP).

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony mengatakan jarak antar dua insiden tersebut cukup jauh, yakni sekitar 20 kilometer.

“TKP ini cukup jauh, sekitar 20 kilometer, dari kejadian sebelumnya, sudah dekat perbatasan antara Kabupaten Indragiri Hilir dengan Kabupaten Pelalawan”, ucap Kapolres.

Hutomo menjelaskan, setelah insiden pertama, tim BBKSDA Riau telah diturunkan untuk menangkap dan menyelamatkan harimau tersebut. Tim tersebut terdiri dari TNI, Polisi dan sejumlah pegiat satwa dilindungi.

Sejumlah perangkap juga telah dipasang. Perangkap-perangkap berbentuk kotak berisi kambing jantan dan babi hutan menyebar di sekitar lokasi itu.

Begitu juga kamera pengintai yang dipasang di setiap sudut dimana perangkap itu berada. Namun, selama lebih kurang dua bulan pencarian, belum ada perkembangan berarti.

Di sekitar TKP, Hutomo mengatakan terpantau dua ekor harimau Sumatera. Keduanya berjenis kelamin betina, berusia sekitar empat tahun. Untuk mempermudah identifikasi, BBKSDA Riau memberi nama keduanya dengan nama Boni dan Bonita.

Dalam kejadian ini, Bonita diduga kuat pelaku penerkam warga. Pasalnya, Jumiati sebelumnya tewas ditangan Bonita. Bonita juga disebut mengalami perubahan prilaku pasca menerkam Jumiati. Diantaranya, tidak sungkan untuk bertemu dan mendekati manusia. Sementara, harimau normal akan menghindar dan lari saat melihat kerumunan manusia.

Beberapa kali pula warga melihat Bonita berkeliaran di areal perkebunan sawit. Tidak sedikit gambar rekaman Bonita berkeliaran di perkebunan sawit direkam warga. Namun, untuk memastikan hal tersebut, Hutomo mengatakan pihaknya masih terus mendalaminya.

“Kami masih meneliti melalui identitas lorengnya. Apakah Bonita atau harimau sumatera lain. Pada saat kejadian, tim kita memang berada di sana,” ujar Hutomo yang juga didapuk sebagai ketua tim penyelamat Harimau di Inhil tersebut.

Sementara itu, ia menuturkan proses pencarian dan upaya penyelamatan Bonita terus dilakukan. Sejak awal pekan lalu, tim penyelamat Harimau terus ditambah, yakni dengan melibatkan tim penembak jitu menggunakan bius.*** (Antara)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: