Pembelaan Romi soal Jokowi salah data: Manusia tempatnya salah dan lupa

Ketum PPP Romahurmuziy.

Jakarta (RiauNews.com) – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan Presiden Joko Widodo sangat terbuka untuk meminta maaf soal kekeliruan dalam pemaparan data saat debat capres kedua, 17 Februari lalu.

Hal itu ia katakan untuk merespons peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro yang mengimbau Jokowi segera meminta maaf bila telah menyadari menyampaikan data yang keliru.

“Pak Jokowi sangat terbuka untuk meminta maaf, saya kira,” kata politikus yang akrab disapa Romy itu saat ditemui di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta, Selasa (26/2/2019) malam.

Romy menuturkan seharusnya masyarakat memaklumi Jokowi yang keliru membeberkan data dalam debat capres. Ia menyebut Jokowi hanya manusia yang masih memiliki kekurangan.

“Soal angka-angka yang salah memang karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, jadi biasa saja kalau kemudian pak Jokowi salah mengutip angka,” kata dia.

Romy mencontohkan dirinya yang kerap tak akurat dalam mengutip angka dalam data. Romy pun menyarankan agar masyarakat lebih memperhatikan subtansi yang dikatakan Jokowi dalam debat capres ketimbang mengurusi soal angka.

“Jadi misalnya prinsip untuk pengurangan impor memang terjadi pengurangan impor, prinsip peningkatan infrastruktur memang terjadi pertambahan jumlah infrastruktur, memang kemudian angkanya itu tidak semua yang disampaikan akurat, namanya juga manusia,” kata dia.

Jokowi pada debat kedua di Hotel Sultan memang menyampaikan sejumlah data yang keliru dan dia koreksi. Salah satunya adalah data soal konflik agraria dan kebakaran hutan.

Soal konflik agraria, Jokowi saat debat mengklaim hampir tak ada lagi konflik agraria dalam kuru 4,5 tahun terakhir. Sementara data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyebut pada 2018 saja tercatat 807,17 ribu hektare lahan di Indonesia mengalami konflik.

Lalu, soal kebakaran hutan Jokowi menyatakan tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan gambut selama tiga tahun.

Klaim Jokowi itu dibantah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menegaskan kebakaran hutan dan lahan masih terjadi dalam tiga tahun terakhir. Jokowi tak lama setelah debat lantas mengklarifikasi data-data tersebut.

Sementara itu peneliti LIPI, Siti Zuhro mengatakan kekeliruan dalam pemaparan data saat debat capres-cawapres merupakan kesalahan fatal. Itu karena debat merupakan ajang untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat atau calon pemilih.***[CNN]

Komentar
%d blogger menyukai ini: