19 Agustus 2019
Home / Politik / Mayoritas kabinet Jokowi yang bertarung jadi caleg tak laku

Mayoritas kabinet Jokowi yang bertarung jadi caleg tak laku

Lukman Hakim Saifuddin gagal lolos menjadi anggota DPR RI setelah suara yang dikantongi tak cukup untuk membawanya ke Senayan..

Jakarta (RiauNews.com) – Presiden Joko Widodo sudah sejak lama memberi restu kepada enam menteri Kabinet Kerja untuk menjadi caleg pada gelaran Pileg 2019. Tapi sebagian besar dari mereka justru mengalami kegagalan alias tak lolos menjadi wakil rakyat di Senayan.

Para menteri yang turut meramaikan Pileg 2019, yakni Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, serta Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri.



Lalu ada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, serta Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Baca: Saktinya Ulin Yusron, buzzer Jokowi yang tak tersentuh polisi

Sebenarnya ada satu menteri lagi yang dapat restu Jokowi untuk nyaleg, yakni Asman Abnur. Namun ia mengundurkan diri dari jabatan Menpan-RB karena PAN memutuskan masuk koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dari deretan nama itu, hanya Puan Maharani dan Yasonna Laoly yang kemungkinan meraih kesuksesan dan melenggang ke DPR RI periode 2019-2024.

Dalam Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Pemilu 2019, Puan berhasil memborong 404.304 suara di Dapil Jateng V dan membantu PDIP mengamankan empat kursi DPR.

Baca: Puan Maharani minta bibi dan ibunya tak saling hujat

Sementara hasil untuk Yasonna belum disahkan KPU. Sebab Sumatra Utara belum masuk rekapitulasi tingkat nasional.

Namun Yasonna mengklaim telah mengantongi 100 ribu suara di Sumut I saat ditemui wartawan di Istana Kepresidenan. Jika benar klaim Yasonna, suara itu diperkirakan cukup untuk mengamankan satu kursi di DPR.

Raihan positif Puan dan Yasonna itu tak diikuti empat menteri lainnya. Eko Putro Sandjojo yang maju dari PKB di Dapil Bengkulu gagal melenggang ke Senayan.

Baca: Moeldoko: Jangan ada maaf bagi penghina Jokowi

Eko yang jadi andalan PKB di Bengkulu hanya meraih 48.625 suara sah. Alhasil total suara PKB tak cukup untuk merebut satu pun kursi di sana.

Kemudian dua menteri Jokowi yang sama-sama bertempur di Dapil Jabar VI, yakni Hanif dan Lukman juga gagal.

Alih-alih merebut jatah di parlemen dan mendongkrak suara Jokowi di Jawa Barat, keduanya malah tumbang bersamaan. Hanif yang maju dari PKB hanya memperoleh 39.366 suara dan Lukman dari PPP hanya mendapat 30.197 suara.

Sementara hasil untuk Imam Nahrawi yang maju dari PKB di Dapil Jakarta I belum disahkan KPU. Sebab DKI Jakarta masih melakukan rekapitulasi di tingkat provinsi.

Namun Direktur Eksekutif Perhimpunan Survei dan Riset Publik (Persepsi) Natahari Wibowo memprediksi Imam Nahrawi gagal di Dapil Jakarta I yang meliputi Jakarta Timur.

Dari penghitungan Persepsi di 10 kecamatan Jakarta Timur, suara PKB tak cukup untuk mendapat satu kursi pun.

Persepsi memperkirakan di Dapil DKI Jakarta I, PDIP mendapat 2 kursi dengan perolehan 356.813 suara, PKS 2 kursi dengan 343.785 suara, Gerindra 1 kursi dengan 251.053 suara, dan PAN 1 kursi dengan 171.091.

KPU sendiri masih melakukan rekapitulasi tingkat nasional hingga 22 Mei 2019. Undang-undang menyebut ada waktu tiga hari bagi peserta pemilu yang keberatan dengan hasil rekapitulasi untuk menggugat ke Mahkamah Konstitusi.

Jika pada 25 Mei tak ada gugatan, maka KPU punya waktu hingga 28 Mei untuk menetapkan calon terpilih, termasuk pasangan presiden-wakil presiden bersamaan dengan jumlah perolehan kursi DPR RI.***[CNN]

Komentar
%d blogger menyukai ini: