Faldo Maldini sebut Prabowo tidak akan menang di MK, ini tanggapan BPN

Faldo Maldini.

Jakarta (RiauNews.com) – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menanggapi pernyataan Wasekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Faldo Maldini. Hal itu terkait video Faldo berjudul ‘Prabowo Tidak Akan Menang Pemilu di MK’.



“Hanya pecundang yang mengaku kalah sebelum bertanding. Filosofi itu yang harus kita semua pahami,” kata anggota BPN, Habiburokhman, Senin (17/6/2019).

Habiburokhman menyebut perbedaan avonturir atau petualang politik dengan pejuang politik. “Kalau avonturir biasanya sekedar result oriented, pejuang politik concern pada proses dan ikhtiar,” ujarnya.

Baca Juga:

Ia menambahkan, saat ini BPN fokus dengan upaya gugatan sengketa hasil pilpres. Soal menang kalah, menurutnya itu kuasa Tuhan, yang penting ialah usaha.

Sementara itu, juru bicara BPN Andre Rosiade menyebut Faldo sejak 17 April 2019 tidak pernah lagi datang ke BPN maupun mengikuti rapat-rapat. Ia menyebut video ‘Prabowo Tak Akan Menang Pemilu di MK’ minim informasi dan hanya sekadar sensasi.

“Kalau Faldo punya masukan dan kritikan silakan disampaikan langsung di rapat BPN, bukan di-vlog,” kata Andre.

Politikus Partai Gerindra itu mengaku tidak akan menyerang Faldo. Dia mengajak koleganya yang juga jubir BPN itu untuk kembali aktif dalam rapat di BPN.



Seperti diketahui, Faldo Maldini membuat video berjudul ‘Prabowo Tidak Akan Menang Pemilu di MK’ yang diunggahnya ke YouTube. Video berdurasi 8 menit 40 detik itu dibagikan Faldo ke jejaring media sosialnya seperti Twitter.

“Di video kali ini gua akan menjelaskan tentang peluang Pak Prabowo di MK dan menurut gua Prabowo-Sandi nggak akan menang pemilu di Mahkamah Konstitusi,” kata Faldo Maldini mengawali videonya. Faldo telah mengizinkan detikcom mengutip video tersebut.

Menjabat salah satu juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019, Faldo menyadari konsekuensi atas pembuatan video ‘Prabowo Tak Akan Menang Pemilu di MK’ itu. Dia yakin dirinya pasti akan mendapat perundungan di media sosial dan semacamnya. Namun ia menjelaskan alasannya menyatakan Prabowo tak akan menang di MK.

Berikut sebagian analisis Faldo:

Secara legal formal, kalau kita bicara secara kuantitatif ya, kekalahan Prabowo-Sandi itu sekitar 17 juta suara. Dalam hal ini untuk membuktikan adanya kecurangan itu, setidaknya lo bisa membuktikan 50 persen lebih deh dari 17 juta itu terjadi kecurangan. Dari 17 juta, 50 persen, lo bagi dua aja misalnya kan, butuh 8,5. Berarti kan setidaknya kan lo butuh 9 juta dong bahwa ada potensi kecurangan dalam hasil penghitungan nih yang itu dibuktikan dengan C1 asli yang dimiliki oleh saksi.

Nah, 9 juta suara. Untuk mendapatkan 9 juta suara itu kita bagi rata misalnya per TPS. Di pemilu kemarin, maksimal kan 1 TPS itu 250 suara ya. Untuk membuktikan 250 suara ini Prabowo-Sandi menang, bisa kita bagi aja nih, 9 juta bagi 250, itu sekitar 30 ribuan, atau 36 ribulah TPS yang kita butuhin bahwa Prabowo-Sandi menang 100 persen. 36 ribu TPS, total TPS di Indonesia itu ada 800.00 by the way. Itu kalau Prabowo-Sandi menangnya 100 persen. Maksud gue, 250 orang Prabowo, 0 Jokowi, 250 orang Prabowo, 0 Jokowi, itu di 36 ribu TPS. Lo bayangin misalnya menangnya nggak 100 persen, berarti TPS-nya harus di atas 36 ribu dong? Kalau Pak Prabowo-Sandi misalnya menang cuma 50 persen di 36 ribu, maka ada penjumlahan jumlah TPS yang lo butuhin C1-nya gitu, kalau seandainya menangnya nggak 100 persen.

Semakin kecil kemenangan Prabowo-Sandi, semakin banyak jumlah TPS yang dibutuhin. Asumsi gue, Prabowo-Sandi menangnya mungkin lo bayangin sekitar 5 atau 10 persen, itu bisa ratusan ribu TPS yang harus kita butuhin untuk pemungutan suara ulang. Taruhlah 200 ribu nih TPS yang dibutuhin TPS-nya, itu seperempat dari total TPS Indonesia. Itu sih menurut gua se-Pulau Jawa nih TPS-nya dikumpulin, segitu deh kayaknya. Jadi untuk membuktikan bukti 200 ribu TPS, C1-nya itu, itu berat banget sih.***

Komentar
%d blogger menyukai ini: