20 September 2018
Home / Opini / Daya Ungkit Internet Bagi Perkembangan Ekonomi Daerah

Daya Ungkit Internet Bagi Perkembangan Ekonomi Daerah

Bernard

Membangun infrastruktur telekomunikasi tentu saja membutuhkan biaya yang besar. Apalagi ketika perusahaan mengeluarkan sebuah anggaran yang harus menganalisa ROI ( Return On Investment ). Tapi, jika kita melihat sebuah strategi yang sering di sebut dengan Blue Ocean strategy[1], tentu ini bisa menjadi cara cerdik perusahaan menguasai area baru tanpa persaingan yang berarti.

Siapa yang menyangka Bank Bank Rakyat Indonesia (BRI) dulunya yang berfokus pada pedesaan dan kredit mikro mampu menjadi salah satu bank plat merah yang di segani dan mampu memiliki aset dan tingkat laba yang besar ? Kini bank BRI pun mampu memiliki satelit sendiri dan bank pertama di dunia yang menggunakannya. Ini seperti sebuah anomali di Indonesia, satelit yang harusnya dimiliki oleh perusahaan komunikasi malah dimiliki pertama kali oleh bank. Berkaca dari strategi Bank BRI dalam menghubungkan semua kantornya di seluruh Indonesia dengan teknologi satelit, tentu saja bukan biaya yang murah. BRI mengeluarkan dana sekitar 3 Trilyun untuk mewujudkannya. Tapi, dengan perhitungan yang matang dan melihat penguasaan area untuk jangka panjang, ini pastinya merupakan investasi yang menguntungkan.

Begitu pula dengan perusahaan telekomunikasi. Provider harus segera mengembangkan dan meluaskan daerah intervensinya agar makin banyak masyarakat merasakan mamfaat dari internet. Dengan terbukanya konektivitas baru, akan menstimulus banyak kesempatan baru dalam model bisnis. Orang-orang di daerah akan mulai menjadikan internet sebagai pusat informasi dan memperkenalkan bisnisnya. Akan banyak terjadi hubungan kota ke desa dan sebaliknya. Ini juga akan menggerakkan bisnis transportasi karena barang yang dijual dari suatu daerah tentu harus di kirim melalui penerbangan, laut dan darat.



Agar daya ungkit koneksi internet dapat di rasakan dan mamfaatnya merata di seluruh Indonesia perlu infrastruktur telekomunikasi untuk mendukungnya. Melihat paparan data yang di keluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia( APJII), penetrasi pengguna internet masih di dominasi di pulau Jawa sekitar 86, 3 juta pengguna dan Sumatera 20, 7 juta pengguna. Mirisnya, jika di gabungkan keseluruhan pulau pun, dari pulau Sumatera, Bali & Nusa 6,1 juta pengguna , Kalimantan 7,6 juta pengguna , Sulawesi 8,4 juta pengguna hingga Maluku & Papua 3,3 juta pengguna, pulau Jawa masih menjadi pengguna terbesar internet dengan 65 % penduduknya telah biasa berselancar internet.

Tentu ini bukan suatu hal yang mengherankan, mengingat pusat perekonomian bangsa kita lebih cenderung memusat dan dukungan infrastruktur yang lebih baik. Melihat Potensi internet berpengaruh besar dalam kemajuan bangsa, hal ini bisa di ubah dengan menganggarkan pembangunan konektivitas lebih kearah barat ( khususnya sumatera ) dan Indonesia bagian timur. Karena masih banyak masyarakat yang belum merasakan mamfaat besar dari koneksi internet. Jika saja ini dilaksanakan, bukan tidak mungkin daerah barat dan timur Indonesia akan menjadi satu kekuatan ekonomi baru. Pembangunan infrastruktur tersebut otomatis mendukung gerak ekonomi. Investor dan pemilik perusahaan akan mulai membuka cabang perusahaannya. Hal ini akan menyerap tenaga kerja yang besar.

Dengan jaringan konektivitas provider akan menjadikan Internet sebagai salah satu daya ungkit informasi dan pengetahuan yang murah bagi masyarakat dan akan membuka banyak kesempatan. Dan, itu cukup di mulai dengan sinergi antara infrastruktur jaringan telekomunikasi dan internet. Kenaikan 0,4 % Pendapatan Domestik Bruto ( PDB ) akan terjadi setiap bertambahnya 10 % pengguna internet seluler!

Hasil Penelitian ini di lakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pelatihan Ekonomi dan Bisnis ( P2EB ) Universitas Gajah Mada ( UGM ), memaparkan bertambahnya penggunaan internet pada seluler mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara kita. Inilah momentum yang tepat bagi pemerintah untuk terus meningkatkan infrastruktur telekomunikasi.

Jika di kaitkan dengan sektor industri pariwisata, akan lebih mudah memperkenalkan daerah wisata baru dengan memamfaatkan laman. Pelancong akan lebih mudah dengan gawai untuk memilih tujuan wisatanya. Aplikasi wisata ataupun trip pendukung informasi juga akan berkembang. Ini akan menstimulus kunjungan wisata yang semakin membludak karena informasi mudah di dapatkan. Dengan begitu, otomatis roda baru ekonomi meningkat dan akan terjadi perombakan lokasi dan akses menuju daerah tersebut. Warga di sekitaran daerah wisata juga akan mengalami dampak langsung ekonominya semakin baik, khususnya segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner, pertunjukan dan kriya. Menariknya lagi, hal tersebut juga akan membangun ekosistem 16 sub sektor ekonomi kreatif yang saat ini sedang di gencarkan oleh pemerintah . Efek domino inilah yang kita harapkan jika infrastruktur telekomunikasi semakin berkembang di luar pulau Jawa.

Jika, kita melihat lompatan teknologi sekarang sangat pesat sehingga memungkinkan kemajuan sebuah bangsa, bukan tidak mungkin generasi muda yang jumlahnya sekarang menurut Badan Pusat Statistik ( BPS ) sangat besar sekitar 70-80 juta menjadi momentum signifikan penggerak perubahan “raksasa” kemajuan bangsa, karena generasi ini sangat melek akan inovasi teknologi dan sangat lihai dalam memamfaatkannya.

Pertanyaannya sekarang, mampukan pemerintah, pengusaha dan generasi muda melihat potensi ini menjadi sebuah kesempatan emas dalam memajukan daerahnya?***

 

[1] Blue Ocean Strategy merupakan sebuah buku yang membahas strategi bisnis yang ditulis oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, pertama kali dipublikasikan pada tahun 2005. Buku ini mengilustrasikan cara-cara meraih keuntungan serta pertumbuhan usaha yang tinggi dengan cara menciptakan permintaan dengan memanfaatkan pasar yang belum atau bahkan tidak dilirik oleh kompetitor, daripada berhadapan langsung dengan kompetitor lain untuk sejumlah konsumen yang sama.

 

Bernard M
Ketua Komunitas Produktif Bonus Demografi Riau (Komunitas yang mengangkat isu ledakan kependudukan yang bekerja sama langsung dengan Yayasan Bhakti Bangsa — www.ybb.or.id)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: