19 November 2018
Home / News / Sains & Teknologi / Philips kembangkan koneksi internet berbasis cahaya

Philips kembangkan koneksi internet berbasis cahaya

(ilustrasi lampu)

Pekanbaru (RiauNews.com) – Istilah WiFi alias Wireless fidelity, tentu sudah akrab bagi sebagian masyarakat, terutama yang kegiatannya sehari-hari tak pernah lepas dari internet, baik melalui komputer dekstop, laptop, maupun gadget.

Selama ini, WiFi yang menggunakan frekuensi radio, menjadi andalan untuk mengantarkan koneksi internet broadband dari sebuah hotspot.

Kini, perusahaan elektronik asal Belanda yang identik dengan produk lampu, Philips, tengah menguji coba teknologi LiFi.

LiFi atau Light Fidelity mampu mengantarkan koneksi internet broadband melalui perantara cahaya.

Menurut Chief Innovation Officer Philips Lightning Olivia Qiu, teknologi LiFi memiliki potensi besar untuk era digital saat ini.

“Ketika frekuensi radio menjadi semakin padat, spektrum cahaya adalah sumber daya besar yang belum dimanfaatkan. Bandwidth cahaya terbilang besar dan sesuai untuk koneksi yang stabil dan simultan dari berbagai perangkat Internet of Things,” ujar Qiu seperti dikutip dari laman resmi Philips, Rabu (21/3/2018).

LiFi mengadopsi teknologi yang serupa dengan WiFi. Keduanya merupakan teknologi nirkabel dua arah dengan kecepatan tinggi namun perbedaannya LiFi menggunakan gelombang cahaya, bukan gelombang radio sebagaimana WiFi.

Philips mengklaim LiFi yang mereka kembangkan memiliki kecepatan koneksi hingga 30 Mbps tanpa memengaruhi kualitas cahaya yang dihasilkan. Dengan kecepatan ini, Philips mengklaim pengguna bisa melakukan streaming video berkualitas HD dan melakukan video call secara bersamaan.

Namun LiFi memiliki kelemahan dibandingkan WiFi. Yakni, meski diterapkan melalui semacam base station yang ditempel di langit-langit ruangan, LiFi membutuhkan direct line of sight alias “pandangan” langsung ke perangkat tujuan yang dilengkapi receiver khusus.

Jika terhalang, maka koneksi internet tak bisa dinikmati. Lain halnya dengan WiFi yang masih bisa menembus bahan-bahan terntu, dan bisa “belok”.

Selain itu, perangkat yang terkoneksi LiFi pun harus statis alias tidak dapat bergerak dengan bebas.

Meski demikian, LiFi tetap dipandang sebagai teknologi yang potensial. Apalagi jika ke depannya LiFi bisa diaplikasikan pada area di mana frekuensi radio dapat mengganggu aktivitas, misalnya di rumah sakit.

Dengan kecepatan potensial yang bisa mencapai lebih dari 30 Mbps, para penciptanya berharap teknologi ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk aplikasi lain.*** (KompasTekno)

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: