Home / News / Sains & Teknologi / Mainan terlalu banyak buat batita sering gagal fokus

Mainan terlalu banyak buat batita sering gagal fokus

Pekanbaru (RiauNews.com) – Bagi sebagian orang tua yang tergolong keluarga mampu, apa saja yang diminta oleh anaknya akan dikabulkan. Bahkan tak diminta pun akan dibelikan sebagai ujud kasih sayang kepada si buah hati. Termasuk membelikan mainan.

Namun memberikan terlalu banyak mainan kepada anak di bawah tiga tahun (batita) ternyata juga tak terlalu bagus.

Sebuah eksperimen yang dilakukan University of Toledo Ohio, Amerika Serikat, terlalu banyak mainan membuat anak kurang fokus dan ganggu kreativitasnya.



Seperti dirilis Infant Behavior and Development, Alexia Metz seorang terapis selaku pemimpin penelitian tersebut, membuat eksperimen dengan menaruh empat mainan dan 16 mainan non elektronik di dua ruangan berbeda.

36 anak berusia 18-36 bulan diminta bermain bergantian di ruangan yang dipasangi kamera. Dari riset itu diketahui, pada ruangan dengan 16 mainan, anak-anak hanya bermain dan mengeksplorasi sekitar 15 menit untuk tiap mainan. Sementara di ruanganan dengan empat mainan, anak mengeksplorasi lebih lama, demikian dilansir Science News, Kamis (14/12/2017).

Metz dan timnya mengamati, upaya awal anak-anak untuk bermain kadang sederhana. Namun saat mereka bosan, pendekatan awal itu berubah jadi cara yang lebih canggih.

Keteraturan mungkin membantu anak-anak mengembangkan fokus mereka dan itu berkaitan dengan otot mana yang harus mereka latih. Latihan semacam itu sulit dilakukan bisa anak-anak terekspos pada mainan yang terlalu banyak karena fokus mereka mudah terpecah.

Mainan yang bersuara bising juga jadi kendala sendiri. Mainan semacam ini bisa mengganggu komunikasi orang tua dengan anak. Barang-barang elektronik seperti televisi dan tablet bisa jadi berdampak lebih besar terhadap komunikasi orang tua dan anak.

Kesan baru juga diduga berpengaruh pada pola perilaku anak. Anak-anak cenderung lebih menyukai mainan di rumah teman mereka meski anak-anak memiliki mainan yang persis sama di rumah mereka.

Metz dan timnya tidak menyimpulkan berapa banyak mainan yang sebaiknya dimiliki anak-anak. Namun, bukan hal buruk bila anak-anak memiliki sedikit mainan. ***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: