10 Desember 2018
Home / News / Politik / Ma’ruf Amin diharapkan bisa dulang suara Sumatera, Jabar dan Banten untuk Jokowi

Ma’ruf Amin diharapkan bisa dulang suara Sumatera, Jabar dan Banten untuk Jokowi

Calon Presiden Joko Widodo bersama calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Jakarta (RiauNews.com) – Calon wakil presiden Ma’ruf Amin ditargetkan bisa merebut suara di Pulau Sumatra, dan dua provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat dan Banten yang pada pemilihan presiden 2014 Joko Widodo tak mampu berbuat banyak.

Untuk itu Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) akan memaksimalkan dan mendorong Ma’ruf Amin untuk berkeliling ke Sumatra, Jabar dan Banten.



Wakil Ketua TKN KIK Abdul Kadir Karding mengatakan, Ma’ruf difokuskan di Sumatra, Jawa Barat, dan Banten karena daerah-daerah tersebut bukan lumbung suara Joko Widodo pada Pilpres 2014. “Terutama, kalah karena isu politik identitas. Pak Kiai Ma’ruf akan kami maksimalkan di sana,” kata Wakil Ketua TKN KIK Abdul Kadir Karding di Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Karding menyatakan, KIK memang akan menitikberatkan kampanye di daerah-daerah yang minim perolehan suara bagi Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Kendati demikian, Karding enggan untuk mengungkapkan lebih jauh terkait strategi kampanye KIK di daerah yang bukan menjadi lumbung suara Jokowi-Ma’ruf. Strategi kampanye, dia mengatakan, bukanlah sesuatu yang dapat dipublikasikan.

Di sisi lain, Karding meminta warga agar jangan tertipu oleh simbol-simbol agama yang digunakan dalam kampanye. Dia mengatakan, masyarakat lebih baik memilih pemimpin yang benar-benar menjalankan syariat agama dan memiliki komitmen terhadap pengembangan umat serta memiliki visi bagi masa depan umat.

“Harus diubah cara pandangnya. Kan banyak orang berkampanye atas nama agama. ‘Saya ini tokoh agama yang harus dipilih didukung karena sayalah mewakili agama-agama ini’, padahal ya enggak pernah melaksanakan syariat-syariat agama. Shalat saja jarang-jarang itu,” katanya.

Karding juga menyebutkan label ulama juga bukan sesuatu yang muncul dengan instan atau tanpa proses. “Mana ada ulama mendadak, mana ada honoris ulama itu enggak ada itu,” ujar dia.

Karena itu, Karding pun mengkritik penggunaan istilah santri post-Islamisme. “Saya sendiri enggak ngerti artinya itu. Sekarang ada pemberian gelar ulama kepada orang yang enggak pernah nyantri belajar agama, susah sudah kasihan umat Islam ya,” katanya.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: