11 Desember 2018
Home / News / Politik / Ma’ruf Amin dapat sinyal lampu kuning

Ma’ruf Amin dapat sinyal lampu kuning

Calon wakil presiden Ma’ruf Amin. (Kredit: CNN Indonesia)

Jakarta (RiauNews.com) – Calon wakil presiden pendamping Joko Widodo, Ma’ruf Amin, mendapat sinyal lampu kuning dari sejumlah pengamat politik. Dalam beberapa pekan terakhir Ma’ruf dianggap justru terlihat terjebak permainan lawan politik yang jika tidak terkelola dengan baik bisa menjadi blunder dan menggerus elektabilitas.

Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada Wawan Masudi mengatakan pernyataan-pernyataan Ma’ruf merupakan bukti bahwa Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif itu mengikuti permainan dari pihak lawan yang selama ini.



“Ini kan agresif. Kelompok sebelah juga agresif. Jadi menurut saya kalau dijawab seperti ini jadinya kontraproduktif,” kata Wawan sebagaimana dilansir laman CNNIndonesia.com, Kamis (15/11/2018).

Pernyataan-pernyataan Ma’ruf memicu kontroversi dan menarik perhatian banyak pihak. Bahkan, tak jarang, pernyataan yang dilontarkan Ma’ruf dalam masa kampanye mendapat respons negatif banyak pihak.

Mulai dari dicap berbohong karena menyatakan Mobil Esemka diluncurkan besar-besaran pada Oktober hingga menggunakan istilah buta-budek dalam pidatonya saat meresmikan posko dan deklarasi relawan di Cempaka Putih Timur.

Pernyataan Buta-Budek itu diprotes Forum Tunanetra. Rombongan kecil penyandang tunanetra pun berunjuk rasa di depan kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak hanya itu, Advokat Senopati 08 melaporkan Ma’ruf ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) karena diduga melanggar pasal 280 ayat 1 C, D, dan E serta pasal 521 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Pasal tersebut memuat Larangan Dalam Kampanye. Pelaksana, Peserta, dan tim Kampanye dilarang (c). menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta Pemilu yang lain; (d). menghasut dan mengadu dombaperseorangan ataupun masyarakat; (e) mengganggu ketertiban umum.

Kata Wawan, Ma’ruf dan para petarung dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 harus berhati-hati saat bertutur kata. Fokus masyarakat kini tak lagi hanya pada substansi visi dan misi calon pemimpin.

“Diksi. Hati-hati dalam memilih kata karena sekarang tidak hanya soal substansi tapi bagaimana menyampaikan pesan dan substansinya kepada masyarakat,” tuturnya.

“Kyai Maruf memang seorang tokoh agama, beliau Ketua MUI, ulama besar. Tapi ini kontestasi politik,” ujar Wawan menegaskan.

Wawan berpendapat akan lebih baik apabila tim pasangan nomor urut 01 memberikan masukan kepada Ma’ruf mengenai komunikasi politik. ***

Sumber: CNN Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: