Home / News / Politik / Beberapa faktor penyebab turunnya elektabilitas Jokowi, salah satunya PSI

Beberapa faktor penyebab turunnya elektabilitas Jokowi, salah satunya PSI

Presiden Joko Widodo bersama pengurus pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Jakarta (RiauNews.com) – Tingkat elektabilitas Joko Widodo-Maruf Amin yang terus tergerus disebabkan beberapa hal. Yakni terkait kinerja Jokowi di pemerintahan, dan pencitraan yang tidak layak lagi dijual.

Pengamat politik, Bin Firman Tresnadi menjelaskan, terkait kinerja pada masa pemerintahannya, tidak sedikit masyarakat yang menganggap Jokowi telah gagal dalam membuat kebijakan-kebijakan atas persoalan ekonomi dan hukum.

“Salah satunya kriminalisasi terhadap para pengkritiknya. Infrastruktur yang menjadi andalan dalam pembangunan Jokowi dianggap rakyat tak juga mendorong bangkitnya ekonomi, yang ada justru rakyat semakin terpinggirkan,” katanya dia kepada redaksi, Kamis (21/3).

Baca: Koalisi Jokowi-Ma’ruf minta PPP turunkan APK Romahurmuzy

Adapun pencitraan atau gimmick politik yang selama ini menjadi andalan Jokowi, kini sudah tidak laku lagi.

“Rakyat sadar “gimmick Jokowi”, Jokowi merakyat, Jokowi orang baik dan sebagainya tidak mampu merubah nasib rakyat menjadi lebih baik di tengah himpitan ekonomi yang semakin berat,” tutup Bin Firman.

Selain itu, menurut Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengatakan, salah satu penyebab anjloknya tingkat elektabilitas Joko Widodo-Maruf Amin ditengarai karena menuver politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Tingkah laku petinggi PSI yang kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial dan cenderung menyerang partai koalisi lain memang membuat koalisi Jokowi-Maruf agak “keruh”.

Baca: Dilaporkan atas tuduhan ujaran kebencian, Grace Natalie penuhi panggilan Bareskrim Polri

“(Makanya PSI) harus ditertibkan, dan harus tertib. Jangan saling menyerang di internal,” ujar Ujang saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (21/3).

Diperparah lagi dengan partai politik yang tergabung dalam koalisi Jokowi-Maruf terkesan hanya berjuang sendiri-sendiri. Mereka berjuang mengejar parliamentary threshold sebesar 4 persen.

“Partai koalisi terkesan berjalan sendiri-sendiri untuk mengamankan pilegnya, jadi pilpres terbengkalai,” pungkas Ujang yang juga direktur eksekutif Indonesia Political Review.

Terbaru menuver PSI, Ketua Umum PSI Grace Natalie menyindir parpol berlabel nasionalis, seperti PDIP dan Golkar yang mendukung peraturan daerah (Perda) Syariah. PSI menilai perda itu diskriminatif sehingga tidak selayaknya partai tersebut memberikan dukungan.

Baca: PSI apresiasi rekomendasi NU larang tak sebut kafir bagi Nonmuslim

Litbang Kompas merilis hasi survei Pilpres 2019 terbaru. Hasilnya, elektabilitas paslon 01 Jokowi-Maruf dan paslon 02 Prabowo-Sandi tidak terpaut jauh. Yaitu 49,2 persen dan 37,4 persen.***

Komentar
%d blogger menyukai ini: