Home / News / Nasional / Ustad Abdul Somad: Balimau tak haram

Ustad Abdul Somad: Balimau tak haram

Ustad Abdul Somad.

Pangkalpinang (RiauNews.com) – Ustad Abdul Somad selama dua hari memberikan ceramah di empat tempat di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung.

Selama acara berlangsung, ribuan jamaah dari berbagai pelosok Babel datang menghadiri tausiah dari ustad asal Riau ini. Bahkan, panitia sampai menutup jalan di depan Masjid Al Huda Kampung Melintang, Kota Pangkalpinang, hingga beberapa ratus meter untuk menampung jamaah, saat acara berlangsung Rabu (06/12/2017) malam.

Pada Kamis (07/12) sekitar pukul 10.00 WIB, ustad Abdul Somad memberi siraman rohani di Kantor Gubernur Babel.

Dilansir laman Bangka Pos, dalam kesempatan tersebut beliau menyinggung soal tradisi Balimau yang diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ustad yang mengenyam pendidikan S1 di Universitas Al Azhar, Mesir ini malah mempertanyakan apa masalahnya mandi balimau jelang Ramadhan, meski tak ada dalam ajaran agama?

“Orang Melayu mandi belimau apa masalahnya. Orang Melayu dulu banyak tinggal di tepian sungai. Nah, ada tradisi Melayu tua
mandi belimau di dalam hutan pakai jeruk, asam. Kenapa mereka mandi di sungai, karena rumah dekat sungai. Kok pakai limau,
ya untuk membersihkan tubuh.”

“MUI bilang haram, haramnya di mana mandi belimau. Ternyata saat ada mandi belimau, diundang artis keyboard (orgen tunggal) lalu joget-joget, itu yang haram,” tuturnya.

Abdul Somad menambahkan, jangan sampai bilang nenek moyang kita tidak berilmu. Haram kalau laki-laki dan perempuan bukan muhrim mandi bersama di sungai, dan ada hiburan musik.

“Ini local wisdom, tidak ada kaitan lain. Kalau disebutkan tidak mandi (belimau) maka puasa tidak sah itu baru tidak boleh,” ucapnya.

Ustaz Abdul Somad mencontohkan peristiwa lain, di mana sebelum Nabi Muhammad datang, orang Arab jahiliah biasa melakukan budaya potong kambing saat kelahiran. Kemudian darah kambing diusap ke kepala anaknya yang baru lahir tersebut.

Ketika Nabi Muhammad datang, dia membuang tradisi yang kotor itu.

“Tidak ada lagi darah kambing diusap ke kepala anak baru lahir. Potong kambing tetap, daging dimasak dan dibagikan kepada tetangga. Ambil yang baiknya,” ungkapnya.***

Baca Juga

Pipis di tebing, bule cantik ini tewas jatuh ke jurang

Denpasar (RiauNews.com) – Sebuah peristiwa tragis menimpa wisatawan asal Jerman bernama Alina Kuroczik. Bule berparas ...

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: