16 November 2018
Home / News / Nasional / Prosedur penggerebekan di kampus Universitas Riau dipertanyakan

Prosedur penggerebekan di kampus Universitas Riau dipertanyakan

Gedung Gelanggang Mahasiswa Fisip Universitas Riau digeledah pasukan Densus 88. (Kredit: Antara)

Jakarta (RiauNews.com) – Pengamat Terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mempertanyakan langkah penggerebekan Densus 88 Antiteror di lingkungan Kampus Universitas Riau pada Sabtu (2/6/2018). Menurut Harits penggerebekan seyogyanya dilakukan di luar lingkungan kampus.

“Itu pola dan cara hard power di lingkungan kaum intelektual yang justru potensi melahirkan sikap antipati terhadap aparat,” kata Harits sebagaimana dilansir laman Republika, Ahad (3/6).



Menurut Harits, penggerebekan baru bisa dilakukan apabila beberapa orang yang dianggap tersangka tersebut ada indikasi kuat hendak meledakkan rakitan bomnya juga di dalam kampus. Penggerebekan di kampus ini menurutnya perlu memperhatikan marwah kampus, dan juga meminimalisir pandangan publik yang tidak sepakat dengan pola penindakan seperti itu.

Harits mengungkapkan, dengan pola penggerebekan seperti itu, publik bisa berspekulasi bahwa motif tersebut seperti untuk memaksakan stigma kampus sebagai sarang teroris dan kampus sarang pembenihan ekstrimis. Sehingga, ada asumsi lanjutan bahwa perlu ada proyek-proyek kontra terkait dengan terorisme di kampus. “Sikap kritis tersebut niscaya muncul,” kata Harits.

Seperti diberitakan sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror melakukan penggeledahan di sebuah gedung sekretariat bersama unit kegiatan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau yang terletak di Jalan HR Subrantas, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.

Menurut keterangan Polri, tiga terduga teroris tersebut akan melakukan diduga penyerangan terhadap kantor-kantor DPR RI dan DPRD. Saat penggeledahan juga diamankan sejumlah bom siap ledak dan bahan peledak.

Sejumlah barang yang diamankan di antaranya bom pipa besi yang sudah jadi sebanyak dua buah, bahan peledak TATP (Triaceton Triperoxide) yang sudah jadi, bahan peledak lain seperti Pupuk KNO3, Sulfur, Gula, Arang. Diamankan pula busur panah dua buah dan anak panahnya delapan buah, senapan angin satu buah serta granat tangan rakitan satu buah.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: