Home / News / Nasional / Perantau Minang akan habiskan Rp2 triliun di kampung saat lebaran

Perantau Minang akan habiskan Rp2 triliun di kampung saat lebaran

Bus “Pulang Basamo” para perantau Minang. (Kredit Foto: Minang Tourism)

Padang (RiauNews.com) – Masyarakat Minangkabau yang memiliki tradisi kuat untuk merantau, pada musim lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah ini diperkirakan akan menghabiskan sekitar Rp2 triliun ketika pulang kampung.

“Jumlah perantau yang pulang tahun ini diperkirakan satu juta orang, jika masing-masing menghabiskan Rp2 juta selama di kampung, perputaran uangnya tentu sangat besar,” ujar Eri dikutip dari laman Otonomi, Ahad (11/6/2017).

Seperti diketahui, merantau adalah kegiatan yang sudah membudaya, khususnya bagi laki-laki Minang yang sudah beranjak dewasa. Adapun daerah perantauan utama adalah Riau, Jambi, Jakarta, Tangerang, Bandung dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa

Ia menambahkan hal itu sangat membantu perekonomian masyarakat mulai dari masyarakat kecil hingga pelaku usaha menengah seperti hotel dan rumah makan.

Eri menuturkan sebagian besar dari jumlah pengeluaran masyarakat ranah minang tersebut yakni untuk zakat, sumbangan pembangunan daerah, kebutuhan sehari-hari, uang tanda untuk keluarga serta untuk berwisata.

“Bahkan, tidak sedikit perantau yang menginap di hotel karena berbagai alasan hingga tingkat hunian hotel pada dua kota di Sumbar, yaitu Bukittinggi dan Padang pada Lebaran bisa di atas 90 persen,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Kerja Sama dan Rantau Sekretariat Provinsi Sumbar Luhur Budianda SY mengatakan sebagian perantau yang pulang tahun ini dipengaruhi oleh promosi wisata daerah di Sumatera Barat. Salah satunya yakni destinasi baru seperti Kawasan Wisata Terpadu Mandeh.

“Perantau tentu ingin pula menikmati destinasi wisata di kampung halaman, yang selama di rantau hanya bisa dilihat melalui berita atau media sosial,” katanya.

Sayangnya, perantau yang pulang kampung hanya bisa menikmati destinasi wisata saja saat lebaran, Sedangkan agenda wisata budaya atau seni tidak ada yang digelar. ***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: