18 Oktober 2018
Home / News / Nasional / Ical: Pengadangan aksi #2019GantiPresiden rugikan Jokowi

Ical: Pengadangan aksi #2019GantiPresiden rugikan Jokowi

Aburizal Bakrie.

Jakarta (RiauNews.com) – Pengadangan terhadap aksi #2019GantiPresiden yang dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat, termasuk pembubaran oleh aparat kepolisian malah bisa merusak citra Presiden Joko Widodo yang akan kembali “bertarung” di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Hal ini diungkapkan Ketua Dewan Pembina (Wanbin) Partai Golkar Aburizal Bakrie, sekaligus menolak tindakan represif terhadap gerakan #2019GantiPresiden tersebut.

“Meski Partai Golkar adalah yang paling pertama dan terdepan mendukung Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya selama dua periode akan tetapi kami menolak dengan keras cara-cara represif dan premanisme terhadap gerakan #2019GantiPresiden tersebut,” tulis pria yang akrab disapa Ical itu di akun Twitter resminya, Senin (27/8/2018).

Sebab, Ical mengatakan kebebasan menyatakan pendapat dijamin dan diatur oleh undang-undang. Maka pelarangan aktivis gerakan #2019GantiPresiden, seperti Neno Warisman di Pekanbaru dan Ahmad Dani di Surabaya, yang dilakukan dengan cara represif dan membiarkan tindakan premanisme, adalah tidak sejalan dengan iklim demokrasi yang sedang dibangun.

“Tindakan ini menunjukkan tidak netralnya aparat dalam mengayomi masyarakat,” tambah mantan Ketua Umum Partai Golkar ini.

Oleh karena itu, ARB mengimbau kepada aktivis #2019GantiPresiden untuk tetap bergerak dalam koridor peraturan perundangan dengan cara-cara santun, bermartabat dan kepatuhan terhadap hukum. Tidak perlu mengeluarkan ucapan atau tindakan-tindakan provokatif, yang akan memperkeruh suasana. Kemudian aparat juga hendaknya memberikan pembelajaran demokrasi kepada masyarakat dengan tidak memihak, dan dapat memfasilitasi serta mengatur masing-masing unjuk pendapat, sehingga terhindar dari konflik di lapangan.

“Saya yakin tahun 2019 nanti merupakan pesta demokrasi yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia dan jangan sampai cara-cara represif dan provokatif menodai ajang pesta demokrasi tersebut,” tutup ARB.***

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: