26 September 2018
Home / News / Nasional / Habib Rizieq: Dukungan Ijtima’ Ulama pada capres/cawapres tidak main-main

Habib Rizieq: Dukungan Ijtima’ Ulama pada capres/cawapres tidak main-main

Habib Rizieq Shihab.

Jakarta (RiauNews.com) – Meski tak dapat menghadiri langsung acara Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional II di Hotel Grand Cempaka pada Ahad (16/9/2018), namun melalui pesan suara Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab memberikan himbauan pada para peserta.

Habib Rizieq menegaskan Ijtima’ Ulama tidak main-main dalam memberikan dukungan kepada pasangan yang dipilih sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2019 mendatang.



Dikatakan juga, penandatanganan fakta integritas sebagai ikatan perjanjian yang kuat dan mengikat serta bermartabat antara capres-cawapres dengan ulama dan tokoh umat. Tujuannya menjaga kemaslahatan agama, bangsa, dan negara.

Ijtima’ Ulama juga digelar untuk menyusun langkah pemenangan bagi umat, rakyat dan bangsa Indonesia dengan cara yang elegan, terhormat serta bermartabat sesuai aturan syariat dan konstitusi. “Karenanya saya ingatkan kepada capres dan cawapres Prabowo-Sandi, yang hari ini menandatangani fakta integritas bahwa Ijtima’ Ulama tidak sedang main-main dalam memberikan dukungan,” kata Habib Rizieq melalui pesan suara saat Ijtima’ Ulama berlangsung, Ahad (16/9/2018).

Ia mengatakan, Ijtima’ Ulama tidak sekadar atau sembarangan memberikan dukungan. Ijtima’ Ulama Sejak awal telah memikirkan langkah-langkah strategis yang fokus dan serius untuk mengantarkan pasangan capres dan cawapres kepada pintu kemenangan yang berkah.

Ia juga menyampaikan, Ijtima’ Ulama pertama merekomendasikan Prabowo sebagai capres dengan pertimbangan yang sangat matang. Ijtima’ Ulama juga merekomendasikan cawapres ulama. Ini juga dengan pertimbangan yang super matang.

“Bukan pertimbangan politik identitas SARA sebagaimana difitnahkan segelintir orang yang islamofobia,” ujarnya.

Dia menegaskan, Ijtima’ Ulama juga tidak pernah memaksakan cawapres ulama karena Ijtima’ Ulama tidak sedang menjalankan politik transaksional. Akan tetapi Ijtima’ Ulama sedang menjalankan siyasah syariyah, yaitu politik negara yang tunduk pada aturan syariat dan konstitusi dengan cara yang terhormat serta bermartabat.***

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: