20 September 2018
Home / News / Kesehatan / Gelatin untuk pembuatan kapsul, ini sumbernya

Gelatin untuk pembuatan kapsul, ini sumbernya


Jakarta (RiauNews.com) – Kita mungkin telah biasa mengkonsumsi obat atau suplemen makanan yang dibalut dengan kapsul. Namun tahukah anda, bahwa kapsul dibuat dari gelatin yang diperoleh dari tulang atau kulit hewan?

Kepala Laboratorium UI Halal Center, Amarila Malik, mengatakan, gelatin merupakan protein yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen dari kulit, jaringan ikat putih, dan tulang hewan. Dalam industri farmasi, gelatin digunakan dalam pembuatan kapsul lunak dan kapsul keras, tablet, granul, suplemen makanan, dan sebagai penyalut bagi produk-produk obat.

“Sumber gelatin dapat berasal dari mamalia, seperti sapi dan babi, juga dari unggas dan ikan. Namun, paling sering digunakan adalah gelatin yang berasal dari sapi atau babi,” ujar Amarila sebagaimana diwartakan laman Republika, Sabtu (3/2/2018).



Amarila dan tim riset bioteknologi farmasi menjelaskan proses pembuatannya, gelatin terbagi menjadi dua tipe, yaitu gelatin tipe A dan gelatin tipe B. Gelatin tipe A umumnya dibuat dari kulit hewan muda (seperti kulit babi) dengan cara direndam dalam larutan asam sehingga proses pelunakannya dapat terjadi lebih cepat. Sedangkan, gelatin tipe B umumnya dibuat dari kulit atau tulang sapi dengan cara direndam dalam larutan basa.

Secara ekonomis, gelatin tipe A lebih disukai produsen obat-obatam dibandingkan dengan gelatin tipe B. Gelatin yang direndam dalam larutan asam (gelatin tipe A) membutuhkan waktu yang lebih singkat, yaitu 3-4 minggu dibandingkan dengan gelatin yang direndam dalam larutan basa (sekitar 3 bulan).

Gelatin tipe A juga tidak memerlukan larutan pencuci yang banyak dan prosesnya lebih singkat. Namun, di Indonesia gelatin tipe A yang berasal dari babi memiliki permasalahan terkait dengan status nonhalalnya.

Dengan cara pembuatan gelatin lewat ekstraksi dengan menggunakan suhu tinggi, sterilisasi, dan pengeringan serta tak terstandardisasi, ini menimbulkan dampak jumlah materi yang dapat dianalisis untuk mengetahui sumber asalnya menjadi sekelumit karena amat terdegradasi. Degradasi gelatin menyebabkan kesulitan tersendiri dalam identifikasi spesies asal gelatin berbasis protein gelatin.

Namun, karena gelatin berasal dari jaringan hewan, seperti kulit dan tulang, di dalam gelatin tersebut masih mengandung asam nukleat DNA yang terbawa pada saat proses pembuatan. “Sekelumit asam nukleat DNA ini dapat dimanfaatkan untuk analisis gelatin sehingga dapat diketahui asal spesies gelatin yang digunakan,” kata Amarila.

Saat ini sedang heboh penarikan terhadap dua merek obat yang beredar bebas di pasaran, yakni Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dan Enzyplex produksi PT Medifarma Laboratories, karena terbukti mengandung DNA babi.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: