Home / News / Internasional / Untuk keempat kalinya, Vladimir Putin jadi Presiden Russia

Untuk keempat kalinya, Vladimir Putin jadi Presiden Russia

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Moscow (RiauNews.com) – Pada Senin (7/5/2018) ini, Vladimir Putin akan dilantik kembali menjadi Presiden Rusia, setelah memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) pada 18 Maret 2018.

Ini adalah untuk keempat kalinya pria kelahiran Sankt-Peterburg, 7 Oktober 1952 ini dilantik mempimpin negara terluas di dunia, sekaligus menjadikannya presiden Rusia pertama yang menjabat hingga 20 tahun. Sebagai catatan, dua periode kepemimpinannya berlangsung selama masing-masing empat tahun dan dua lainnya enam tahun.



Aturan di Rusia tak membolehkan presiden menjabat selama tiga periode berturut-turut. Masa kepemimpiannya sempat dijeda selama satu periode yakni 2008-2012. Saat itu dia menjadi perdana menteri dan memberikan kesempatan kepada Dmitry Medvedev untuk naik menjadi presiden.

Lalu, Putin kembali memenangkan pemilu presiden pada dua periode berikutnya. Masa kepemimpinannya untuk periode ini berlangsung hingga 2024.

Putin begitu populer di mata rakyat Rusia. Lebih dari 55 juta orang yang memilihnya dalam pilpres lalu atau memenangkan 76,67 persen suara.

Angka ini merupakan rekor tertinggi bagi Putin selama empat kali mengikuti pilpres. Pada 2000, dia hanya memperoleh 52,94 persen suara atau didukung sekitar 39,74 juta warga. Lalu di 2004, dia mendapat 71,31 persen suara atau sekitar 49,56 juta dukungan. Disusul pada 2012, Putin memperoleh 45,6 juta dukungan atau 63,6 persen suara.

Bagaimana dengan 2024? Kalau pun ingin maju lagi, Putih harus rehat selama satu periode karena terbentur aturan, seperti terjadi pada 2008-2012, di mana saat itu dia meninggalkan kursi presiden dan menjadi perdana menteri.

Dia akan memasuki usia 72 tahun pada 2024. Karena harus menunggu enam tahun, Putin akan menginjak 78 tahun saat pemilu 2030 berlangsung.

Faktor usia tampaknya akan menjadi penghambat untuk maju. Untuk itu Putin bisa saja meninggalkan singgasananya di Kremlin untuk memberikan kesempatan bagi orang lain.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Amerika NBC pada Maret, Putin mengaku sudah memikirkan pengganti potensialnya pada 2000.

“Tidak ada yang melarang untuk memikirkan hal ini. Tapi pada akhirnya, rakyat Rusia yang akan memutuskan,” kata dia.

Melihat kemenangan yang dominan pada pilpres terakhir, sulit untuk menentukan siapa sosok yang akan menggantikannya kelak. Tak ada satu pun politikus yang bisa menandinginya dalam popularitas.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: