19 Januari 2018
Home / News / Internasional / Pantai Gaza tercemar air limbah warga tak bisa lagi berenang

Pantai Gaza tercemar air limbah warga tak bisa lagi berenang

Masyarakat di Jalur Gaza menikmati liburan di pantai sebelum tercemar limbah.

Kota Gaza (RiauNews.com) – Kurangnya pasokan listrik membuat perusahaan pengolah air limbah di Jalur Gaza, Palestina, tak bisa mengolahnya terlebih dahulu sebelum dibuang ke laut.

Dampaknya, warga Jalur Gaza tak lagi bisa menikmati air laut yang berwarna biru dan udara bersih saat mereka pergi ke pantai dan destinasi yang paling sering dikunjungi selama musim panas, akibat tingginya tingkat polusi.

Selain aroma tidak sedap yang datang dari banyak area di laut, air limbah mengalir ke laut sebelum disaring dengan baik oleh instalasi pengolahan limbah akibat kekurangan listrik.

Pantai Gaza di Laut Tengah memiliki panjang 40 kilometer, di mana ada sembilan muara limbah utama di sepanjang pesisir daerah kantung itu yang memompa sebanyak 110.000 liter air limbah per hari, kata beberapa pejabat baru-baru ini.

Sebagaimana dikatakan oleh para pejabat dan ahli, pemompaan air limbah sebanyak itu sebelum disaring sebagaimana mestinya, bisa mencemari air laut dalam skala luas dan membuat warga Jalur Gaza kehilangan tempat rekreasi selama musim panas.

Khalid Abu Ghali, Pejabat Penerangan Lingkungan Hidup Jalur Gaza, mengatakan kepada Xinhua, “Seluruh pantai berubah menjadi rawa yang tercemar dan kotor akibat air limbah yang tidak diolah.”

Dinas Sumber Daya Alam dan Energi, yang dikuasai Hamas, di Jalur Gaza mengatakan pada awal April bahwa instalasi pembangkit listrik di Jalur Gaza berhenti beroperasi total setelah kehabisan bahan bakar sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Mereka mengatakan tak bisa membeli bahan bakar lagi untuk instalasi tersebut gara-gara pajak yang diberlakukan oleh Pemerintah Konsensus Palestina di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan, atas bahan bakar. Akibatnya, harga bahan bakar naik tiga kali lipat.

Namun, Pemerintah Konsensus Palestina, pimpinan Perdana Menteri Rami Hamdallah, menyalahkan Hamas, yang mereka gambarkan sebagai pemerintah de facto di Jalur Gaza, atas krisis listrik di Jalur Gaza sejak pertengahan 2014.

Namun, Jalur Gaza secara keseluruhan memerlukan 500 MW, sedangkan listrik yang saat ini tersedia cuma 210 MW, termasuk 120 MW yang dipasok oleh Israel dan 30 MW oleh Mesir, demikian Antara.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: