22 Oktober 2018
Home / News / Internasional / Natal di Betlehem tak meriah gara-gara Trump

Natal di Betlehem tak meriah gara-gara Trump

Natal di Betlehem tahun ini tak semeriah sebelumnya gara-gara pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengakui sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Betlehem (RiauNews.com) – Yerusalem adalah kota suci tiga agama, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi. Khusus bagi umat Nasrani, Betlehem yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Yerusalem adalah salah satu Kota Suci mereka.

Mereka meyakini Yesus Kristus lahir di kota tersebut, dan diabadikan dengan didirikannya gereja bernama Church of Navity. Dikutip dari DetikTravel, sejumlah literatur menyebut bahwa gereja tersebut dibangun pada tahun 327 hingga 333 masehi oleh Santa Helena, Ibu dari Kaisar Consstantine I. Saat ini gereja tersebut dikelola bersama oleh para pejabat Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Katolik Roma, dan Gereja Apostolik Armenia.

Biasanya pada misa malam Natal, tempat tersebut dipenuhi oleh turis dan para peziarah yang sengaja datang khusus ke tempat juru selamat umat Kristen tersebut dilahirkan.



Namun pada malam Ahad (24/12/2017), meski berlangsung tenang peserta misa tak sebanyak tahun-tahun lalu, demikian pula turis yang ingin menikmati malam Natal di Tanah Suci tiga agama itu.

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah memicu sejumlah protes yang jamak berakhir bentrok dengan tentara Israel di Betlehem, Yerusalem.

Insiden ini tampaknya menahan hasrat sejumlah umat Kristiani untuk merayakan Natal di Betlehem seperti tahun-tahun lalu.

Kebijakan otoritas setempat yang membatasi perayaan demi mencegah kemungkinan yang tak diinginkan, ditambah dengan ramalan hujan akan turun, menambah alasan berkurangnya peserta misa malam Natal dan perayaan.

Meski begitu, ada saja yang tak peduli dengan semua itu. Claire Dailout, misalnya, tetap datang dari Perancis untuk merayakan Natal di Betlehem.

“Keputusan satu orang (Trump) tidak bisa mempengaruhi semua Tanah Suci,” kata Dailout, seperti dikutip Kompas.com dari AP. “Yerusalem adalah milik semua orang, Anda tahu, dan akan selalu seperti itu, apapun yang dikatakan Trump.”

Menjelang tengah hari, Minggu, ratusan orang berkumpul di Manger Square di dekat lokasi utama perayaan Natal di Betlehem. Spanduk-spanduk Natal berdampingan dengan spanduk protes untuk Trump.

Walikota Bethlehem, Anton Salman, mengatakan, perayaan Natal pada tahun ini sengaja dibatasi sebagai protes kepada Trump.

“Kami memutuskan membatasi perayaan Natal (hanya untuk) ritual keagamaan sebagai ungkapan penolakan dan kemarahan, sekaligus simpati terhadap korban yang jatuh dalam demonstrasi baru-baru ini (terkait pernyataan Trump),” ujar Salman.

Sami Khoury, yang mengelola portal pariwisata Visit Palestine, mengatakan banyak pengunjung membatalkan perjalanan Natal mereka.

“Bahkan tidak banyak orang Palestina, apalagi turis, pada perayaan tersebut,” kata Khoury, seperti dikutip AFP. “Rasanya tidak seperti Natal.”

Nahil Banura, pemeluk Kristen dari Beit Sahur, dekat Betlehem, berpendapat pernyataan Trump soal Yerusalem telah membuat persiapan Natal pada tahun ini berantakan.

Sekitar 50.000 warga Palestina memeluk agama Kristen. Jumlah mereka sekitar 2 persen populasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Mitri Raheb, pastor dari Gereja Natal Lutheran Evangelikal di Bethlehem, menyebut Natal tahun ini sebagai campuran kesedihan dan kegembiraan gara-gara pernyataan Trump itu.

Hanya Kementerian Pariwisata Israel yang menyatakan persiapan Natal pada tahun ini tak terpengaruh pernyataan Trump. Seperti dikutip AFP, mereka bahkan menyebut jumlah wisatawan Natal pada tahun ini diperkirakan naik 20 persen dibandingkan pada 2016.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: