20 Februari 2019
Home / News / Internasional / Amerika dilanda cuaca dingin ekstrim “polar vortex”, sejumlah sekolah ditutup

Amerika dilanda cuaca dingin ekstrim “polar vortex”, sejumlah sekolah ditutup

Air Terjun Niagara yang berada di Kanada dan As membeku akibat dinginnya cuaca. (Kredit: Getty/BBC)

Washington (RiauNew.com) – Temperatur udara turun drastis di berbagai wilayah Amerika Serikat saat fenomena alam yang disebut “polar vortex” menghembuskan udara Artik ke kawasan selatan.

Sejumlah sekolah dan pertokoan ditutup akibat kondisi itu. Beberapa negara bagian pun menetapkan status darurat. Delapan orang bahkan dilaporkan tewas akibat cuaca ini.

Namun ketika banyak orang berupaya menghangatkan diri di dalam rumah, ada sekelompok pemberani yang menghadapi dan mengadu nasib di luar ruangan.

Brett Thicke adalah pengawas proyek pengerjaan fasilitas publik di Desa Richfield, Wisconsin. Selama cuaca ekstrem terjadi, Brett berkewajiban memastikan jalanan di pedesaan itu bersih dan aman untuk dilalui.

“Tak ada hal yang dapat saya bandingkan dengan situasi ini,” ujar Brett.

“Saya berusaha mengingat suhu cuaca paling dingin yang pernah saya rasakan, lalu melipatgandakannya 10 kali. Yang terjadi saat ini adalah cuaca dingin yang tak dapat dijelaskan.”

“Suhu di Richfield hampir -45 derajat celcius. Saat berjalan keluar ruangan, rasanya setiap akar berewok saya berdiri, bahkan ketika seluruh wajah saya tertutup,” kata Brett.

Semenjak diterpa suhu ekstrem, aktivitas bisnis dan sekolah di Chicago dan sekitarnya telah ditutup, dan kereta api antar kota ditangguhkan, serta lebih dari seribu penerbangan telah dibatalkan dan pengiriman surat pun ditangguhkan.

Sementara itu, status darurat telah diberlakukan di sejumlah negara bagian, seperti Wisconsin, Michigan, dan Illinois hingga di daerah selatan yang biasanya lebih hangat seperti di Alabama dan Mississippi.

“Ini mungkin saat bersejarah,” kata Ricky Castro, ahli meteorologi dari National Weather Service (NWS) di Illinois.

Cuaca luar biasa dingin yang melanda AS berdampak kepada 250 juta warga AS. Sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dan ratusan sekolah terpaksa ditutup.***

Sumber: BBC

Komentar
%d blogger menyukai ini: