Home / News / Bisnis / Tarif batas atas tiket pesawat hanya gertak sambal

Tarif batas atas tiket pesawat hanya gertak sambal


Jakarta (RiauNews.com) – Pemangkasan tarif batas atas sebesar 12-16 persen tak bisa serta merta menyeret turun harga tiket pesawat yang dibeli penumpang maskapai. Alasannya sederhana, penurunan tarif batas atas cuma berlaku bagi maskapai dengan pelayanan penuh atawa full service, seperti Garuda Indonesia dan Batik Air.

Sementara, tarif batas atas untuk maskapai penerbangan tarif rendah (low cost carrier/LCC), seperti Lion Air dan Citilink Indonesia, tidak turun. Maskapai LCC ini hanya diimbau untuk mematok harga penjualan tiket pesawat sekitar 50 persen dari tarif batas atasnya.



Alasan lain, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan penurunan tarif batas atas cuma 15 persen. Padahal, kenaikan harga tiket pesawat sudah melampaui 15 persen. “Bahkan ada yang hampir dua kali lipat dari harga yang ditawarkan sebelumnya,” ujarnya, Selasa (14/5/2019).

Baca: Maskapai yakin tiket lebaran tetap laku meski mahal

Selain itu, penurunan tarif batas atas tidak bersifat memaksa. Buktinya, tidak ada sanksi bagi maskapai yang tak mengindahkan ketentuan baru ini. Pemerintah disebut hanya akan menuangkan ketentuan baru ini lewat SK. Bukan merevisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019.

Jelas, Fithra mengisyaratkan bahwa ketentuan ini cuma ‘gertak sambal’ belaka. Begitu pun dengan imbauan kepada maskapai LCC untuk memasang harga penjualan tiket sebesar 50 persen dari tarif batas atas.

Apalagi, imbauan ‘diteriakkan’ jelang libur lebaran dan cuti bersama, dan rencananya diberlakukan pada Rabu (15/4) esok. Bukan tidak mungkin maskapai tidak melakukan imbauan yang diputuskan bersama-sama Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tersebut.

Baca: Duopoli Garuda Indonesia-Lion Air jadi alasan pemerintah intervensi harga tiket pesawat

“Imbauan ini kan tidak ada kewajiban bagi maskapai. Jadi, hanya terkesan buru-buru saja, tapi tetap sulit berdampak karena sudah dekat lebaran,” katanya.

Hal senada disampaikan Ekonom Core Mohammad Faisal. Menurut dia, kebijakan ini akan sulit diterapkan, terutama jelang libur lebaran. Kebijakan ini bahkan disebut Faisal minim dampak karena sifatnya yang tidak memaksa dan terbatas pada maskapai full service.

Baca: Airasia, Traveloka dan Tiket.com akan dipanggil KPPU soal tiket

“Penggunaan maskapai LCC di kalangan masyarakat Indonesia itu jauh lebih besar ketimbang full service. Jadi, seharusnya tidak sekadar imbauan,” jelasnya. ***[CNN]

Komentar
%d blogger menyukai ini: