Home / News / Bisnis / Siasati melemahnya harga karet, pemerintah dukung pengembangan aspal karet

Siasati melemahnya harga karet, pemerintah dukung pengembangan aspal karet

Harga karet alam terus menurun yang membuat para petani menjadi kurang bersemangat mengelola kebunnya. (Kredit: Merdeka)

Pontianak (RiauNews.com) – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus melakukan berbagai uapaya untuk meningkatkan permintaan komoditas karet lokal, terutama di pasar internasional. Hal ini dilakukan mengingat harga karet global yang tidak bersahabat, yakni di rentang 1.300 dolar AS sampai 1.350 dolar AS per ton.

Airlangga menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan investasi untuk membuat prototype atau percobaan karet sebagai bahan campuran membuat aspal. Penelitian yang dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini sebagai upaya memberikan nilai tambah terhadap karet.



“Akan segera difinalisasi untuk kesiapannya,” tuturnya dalam kunjungan kerja ke industri karet remah (crumb rubber) PT New Kalbar Processors di Pontianak, Sabtu (17/11/2018).

Dalam kerja sama tersebut, Kementerian Perindustrian ditugaskan untuk mengembangkan produk aspal karet, sementara Kementerian PUPR mendapat amanah mengaplikasikan produk di lapangan. Airlangga menilai, penggunaan karet alam khususnya ditujukan untuk meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri. Upaya ini tentunya juga akan menolong petani yang nasibnya terpuruk akibat merosotnya harga karet.

Airlangga menuturkan, upaya kedua yang akan dilakukan adalah mendorong program penanam kembali atau replanting melalui pajak ekspor. Cara ini telah diterapkan di perkebunan sawit melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Hasil pajak ekspor tersebut kemudian diolah kembali untuk digunakan sebagai dana replanting pada kebun rakyat.

Airlangga belum dapat memastikan waktu penerapan skema tersebut, namun ia menyebutnya sebagai urgensi. Sebab, produktivitas karet Indonesia lebih rendah dibandingkan negara lain karena sudah lama tidak replanting akibat tekanan harga. “Untuk waktunya, kami tunggu kesiapan industri,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kini juga sudah mengeluarkan crumb rubber atau serbuk karet dari daftar negatif investasi (DNI). Dengan upaya ini, diharapkan investasi asing dapat masuk dan membantu pemerintah maupun petani karet untuk meningkatkan hasil produksi.***

Sumber: Antara

Komentar
%d blogger menyukai ini: