21 November 2018
Home / News / Bisnis / Garuda Indonesia dibayangi rencana mogok kerja karyawan

Garuda Indonesia dibayangi rencana mogok kerja karyawan

Para pramugari Garuda Indonesia.

Jakarta (RiauNews.com) – Satu-satunya maskapai penerbangan yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Garuda Indonesia Tbk, saat ini sedang dibayang-bayangi rencana mogok kerja oleh para karyawannya, dengan alasan telah terjadi kegagalan dalam manajemen.

Menurut para karyawan yang tergabung dalam Serikat Bersama (Sekber) mengungkapkan, setidaknya ada lima kegagalan utama yang terjadi di tubuh Garuda, seperti yang diungkapkan Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) Captain Bintang Hardiono.



Kegagalan pertama terkait perubahan sistem penjadwalan kru yang diimplementasikan pada November 2017. Hal itu menyebabkan sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan, puncaknya terjadi pada awal Desember 2017.

“Itu masih terus terjadi hingga sekarang. Penanggung jawab dalam hal ini adalah Direktur Marketing dan Teknologi Informasi (IT),” ujar Captain Bintang pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (2/5/2018) kemarin.

Kedua, terkait efektivitas jabatan Direktur Kargo. Menurut Sekber, jabatan tersebut sangat tidak diperlukan sebab sebelumnya unit kargo hanya dipimpin oleh pejabat setingkat vice president.

“Garuda Indonesia tidak punya pesawat khusus kargo atau freighter aircraft. Dengan dipimpin seorang direktur sejak 2016, kinerja Direktorat Kargo tidak meningkat dan hanya meningkatkan biaya organisasi,” ujarnya.

Kegagalan ketiga, peningkatan pendapatan usaha penjualan tiket penumpang tidak mampu mengimbangi beban usaha karena ketidakmampuan Direktur Marketing dan IT dalam membuat strategi penjualan produk. Hal itu, menurut dia, bisa dilihat pada penurunan rata-rata harga jual tiket penumpang pada 2017 dibandingkan 2016.

Kelima, Direktur Personalia Garuda Indonesia banyak mengeluarkan peraturan perusahaan yang bertentangan dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tanpa berunding dengan serikat pekerja.

“Hal itu menimbulkan perselisihan sekaligus berakibat ke suasana kerja yang tidak kondusif sehingga berdampak pada penurunan keamanan,” ucapnya sebagaimana dikutip dari Republika.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: