18 Agustus 2018
Home / News / Bisnis / Agustus, Provinsi Riau Alami Inflasi Sebesar 0,24 Persen

Agustus, Provinsi Riau Alami Inflasi Sebesar 0,24 Persen

 

Pekanbaru (RiauNews.com). Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Dumai dan Tembilahan, pada Agustus 2017 di Riau terjadi inflasi sebesar 0,24 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Aden Gultom, ketika di temui saat pres rilis di Kantornya, Pekanbaru, Senin (4/9), mengatakan bahwa inflasi yang terjadi ini disebabkan adanya kenaikan indeks harga konsumen pada enam kelompok pengeluaran, dengan inflasi tertinggi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,78 persen dengan andil sebesar 0,18 persen.

“Komodi yang memberi andol terbesar inflasi itu cabai merah, daging ayam ras, daging sapi, ikan serai, dan beberapa komoditas lainnya,” ujar Aden.

Menurut Aden, Inflasi Agustus ini berbeda dengan Juli kemarin. Dimana tingkat inflansi dipengaruhi oleh transportasi udara. Sementara pada Agustus ini, Komuditas yang memberikan andil terjadinya inflansi di Riau adalah bahan makanan.

Lebih jauh dikatakan Aden,  untik kelompok yang mempengaruhi inflasi adalah pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,61 persen dengan andil sebesar 0,05 persen, kelompok sandang sebesar 0,43 persen dengan andil sebesar 0,03 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,24 persen dengan andil sebesar 0,05 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,13 persen dengan andil sebesar 0,03 persen, dan kelompok kesehatan sebesar 0,08 persen dengan andil sebesar 0.004 persen.

“Sedangkan kelompok pengeluaran transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,61 persen dengan andil deflasi sebesar 0,10 persen,” ungkapnya.

Aden menambahkan, dari tiga kota yang mengalami inflansi yakni Tembilahan, Kota Pekanbaru dan Dumai. Kota Pekanbaru lah yang mengambil andil paling besar yakni 0.20 persen.

“Inflasi Pekanbaru adalah paling pengaruh tingkatnya untuk Riau. Karena jumlah penduduknya yang lebih banyak dari Pada dumai dan Tembilahan,”paparnya.

Aden juga menjelaskan, dari 23 kota di Sumatera yang menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK), 15 kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 1,09 persen, diikuti oleh Medan sebesar 1,06 persen, dan Sibolga sebesar 1,01 persen. Sedangkan Inflasi terendah terjadi di Kota Batam sebesar 0,01 persen.

“Untuk deflasi terjadi di delapan kota,  dengan deflasi tertinggi terjadi di kota Pangkal Pinang sebesar 0,78 persen, “tutupnya.

 

safrinayanti

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: