11 Desember 2018
Home / Hukum & Kriminal / TPNPB klaim sebagai pembunuh pekerja di Papua

TPNPB klaim sebagai pembunuh pekerja di Papua

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) berpose dengan latar bendera Bintang Kejora. (Kredit: istimewa/Republika)

Jakarta (RiauNews.com) – Pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau dikenal juga dengan TPN/OPM mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan pekerja di Kabupaten Nduga, pada Ahad (2/12/2018) lalu. Aksi itu disebut telah direncanakan melalui pengintaian sejak tiga bulan lalu.

“Panglima Daerah Militer Makodap III Ndugama bertanggung jawab terhadap penyerangan sipur pekerja jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua,” kata Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom dalam lansiran yang dilansir Republika, Rabu (5/12/2018).



Sebelumnya, pihak TNI/Polri melaporkan sebanyak 31 pekerja jembatan di jalur Trans-Papua di Distrik Yigi, Nduga, dibantai selepas perayaan proklamasi Papua merdeka pada Ahad (2/12). Belakangan, jumlah yang meninggal diralat menjadi 19 orang.

Menurut keterangan pihak TNI, sebanyak 25 pekerja PT Istaka Karya tersebut digiring ke Gunung Kabo dan ditembaki. Dari jumlah itu, enam di antaranya berhasik melarikan diri. Selepas insiden itu, Pos TNI Distrik Mbua diserang dan seorang anggota TNI gugur.

Menurutnya, kelompok yang melakukan penyerangan dipimpin Egianus Kogoya. Sedangkan operasi penembakan terhadap para pekerja dipimpin Pemne Kogoya.

“Operasi di Kali Aworak, Kali Yigi, Pos TNI Distrik Mbua kami yang lakukan dan kami siap bertanggung jawab. Penyerangan ini dipimpin Panglima Daerah Makodap III Ndugama Tuan Egianus Kogeya dan komandan operasi Pemne Kogeya,” kata Sebby mengutip keterangan yang ia dapat dari lapangan.

Menurut dia, anggota TPNPB di lapangan melakukan pemantauan selama tiga bulan lebih. Mereka kemudian mengambil kesimpulan bahwa para pekerja di Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua adalah kesatuan kerja.

“Karena kami tahu bahwa yang berkerja selama ini untuk jalan Trans-Papua dan jembatan-jembatan yang ada sepanjang jalan Habema-Juguru-Kenyam-Batas Batu adalah murni anggota TNI,” kata dia.

Setelah pemantauan itu, pasukan TPNPB melakukan serangan berbarengan dengan peringatan proklamasi Papua merdeka pada 1 Desember. “Sasaran serangan kami tidak salah. Kami tahu mana pekerja sipil atau tukang biasa dan mana pekerja anggota TNI walaupun mereka berpakaian sipil atau preman.”

Sebby juga menuturkan, penyerangan Pos TNI Distrik Mbua dan menewaskan seorang anggota TNI pada Senin (3/12) dilakukan tanpa bantuan warga sipil seperti yang sempat diklaim TNI/Polri. “Kami pimpinan sampai anggota TPNPB Komando Nasional punya kode etik perang revolusi. Kami tidak akan berperang melawan warga sipil yang tidak seimbang dan sepadan,” kata Sebby mengklaim.***

Sumber: Republika

Komentar
%d blogger menyukai ini: