20 September 2018
Home / Hukum & Kriminal / Setnov kirim surat penolakan hadiri pemeriksaan KPK

Setnov kirim surat penolakan hadiri pemeriksaan KPK


Jakarta (RiauNews.com) – Ketua DPR RI Setya Novanto kembali tak memenuhi panggilan dari Komisi Pemberantasan Korupsi yang dijadwalkan pada Rabu (15/11/2017) ini. Melalui kuasa hukumnya, Setnov mengirimkan surat alasan dia tidak dapat datang ke KPK menjalani pemeriksaan dugaan korupsi proyek KTP elektronik.

Surat tertanggal 14 November 2017 dengan kop Yunadi & Associates datang ke kantor KPK jam 10.00 WIB tadi. Berisikan tujuh poin atau alasan yang disampaikan berupa argumentasi hukum Novanto.

Pertama, Novanto telah menerima surat panggilan KPK tanggal 10 November 2017 untuk menghadap penyidik KPK.

Kedua, dalam surat panggilan menyebutkan memanggil: Setya Novanto, pekerjaan ketua DPR RI dan seterusnya.



Ketiga, bahwa berdasarkan Pasal 1 ayat 3 UUD 1945, Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Pasal 20 A huruf 3 UUD 1945 yang bunyi pasal diuraikan dalam pasal 80 UU Nomor 17 Tahun 2014 menyangkut Hak Imunitas. Dan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan dan Perundang-undangan.

Keempat, berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2014 Pasal 224 ayat 5 tentang Hak Imunitas Anggota DPR dan Pasal 245 ayat 1 dan Pasal 224 ayat 5 diuraikan.

Kelima, bahwa adanya permohonan judicial review tentang wewenang memanggil klien kami selaku Ketua DPR RI dan seterusnya.

Keenam, bahwa pernyataan ketua KPK tentang pansus angket dan seterusnya.

Ketujuh, bahwa adanya tugas negara pada Novanto untuk memimpin dan membuka sidang paripurna DPR pada hari ini.

“Berdasarkan alasan-alasan hukum di atas maka klien kami belum bisa memenuhi panggilan tersebut sampai adanya putusan MK terhadap permohonan judicial review yang kami ajukan tersebut,” demikian isi surat tersebut.

Surat ditandatangani oleh Fredrich Yunadi — kuasa hukum Novanto.

Surat tersebut juga ditembuskan kepada Presiden RI, Ketua MK RI, Ketua MA RI, Ketua Komnas HAM, Kapolri, Jaksa Agung, Kabareskrim Polri, Kapolda Metro Jaya, Kajati DKI, dan Novanto serta pertinggal.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: